Rabu, 12 Oktober 2011

Purnama Dimatamu, Ayah




Imam Apriansyah

Kutulis puisi kesedihan
Agar kau mampu membaca harum tubuhku dengan air mata.

Hari dan bulan berlalu diwajahmu namun tak mampu kau hentikan
Hanya sekedar permainan waktu yang kau biarkan berlalu.

Aku sering merindumu, sebagai purnama yang tak pernah tahu kapan kan kugenggam
Separuh cahayaku redup, tak mengerti kemana kan kucari lampu seindah rembulan.

Pada sepi dan halusinasi, pada mimpi yang kadang tak pasti
Kurebahkan rindu ini. Rindu yang mustahil dapat kuisi sebagai panganan dalam kaleng-kaleng lebaran. Atau lagu nina bobo yang kerap kudengar dari jendela dirumah tetangga.


Dalam doa yang siang malam aku panjatkan:
Akankah engkau menyeka air mata rindu yang kadang tak mampu kulabuhkan.

Selalu saja rindu itu memudar sebagai seberkas cahaya purnama yang diliputi awan
Memancar sebagai percikan hujan dimataku.

Ayah…
Gedung-gedung megah itu menutupi hatimu
yang hendak menyembunyikan purnama dimatamu.
Meranggas sebagian sejarahku dalam aliran darah yang kau pancarkan dalam rahim ibu.
Yang kini terdampar dihempas perihnya debu-debu jalanan.

Pada hujan senja itu
Engkau lempar tanggung jawab pada nisan ibu yang membisu.
Barangkali engkau malu.
Darah birumu terlalu kental, untuk menjaga mental kenyataan bahwa sejarah Tuhan menyatatku sebagai darah dagingmu.

Seumpama aku hanya kotoran
Yang membikin baju kebesaranmu jadi berdebu.
Aku ingin jadi tanah saja, selamanya dikubur dari purnama.

Aku memang bukan bima atau sadewa
Yang mampu bertarung merenggut tahta raja
aku hanya jutaan tetes air mata yang merindu purnama dimatamu, ayah.

*Puisi ini masuk dalam antologi puisi adalah hidupku.

Pagaralam,22 september 2011 17:09 wib.
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar