Imam Apriansyah
Kutulis puisi kesedihan
Agar kau mampu membaca harum
tubuhku dengan air mata.
Hari dan bulan berlalu diwajahmu
namun tak mampu kau hentikan
Hanya sekedar permainan waktu yang
kau biarkan berlalu.
Aku sering merindumu, sebagai
purnama yang tak pernah tahu kapan kan
kugenggam
Separuh cahayaku redup, tak
mengerti kemana kan
kucari lampu seindah rembulan.
Pada sepi dan halusinasi, pada
mimpi yang kadang tak pasti
Kurebahkan rindu ini. Rindu yang
mustahil dapat kuisi sebagai panganan dalam kaleng-kaleng lebaran. Atau lagu
nina bobo yang kerap kudengar dari jendela dirumah tetangga.
Dalam doa yang siang malam aku
panjatkan:
Akankah engkau menyeka air mata
rindu yang kadang tak mampu kulabuhkan.
Selalu saja rindu itu memudar
sebagai seberkas cahaya purnama yang diliputi awan
Memancar sebagai percikan hujan
dimataku.
Ayah…
Gedung-gedung megah itu menutupi
hatimu
yang hendak menyembunyikan purnama
dimatamu.
Meranggas sebagian sejarahku dalam
aliran darah yang kau pancarkan dalam rahim ibu.
Yang kini terdampar dihempas perihnya
debu-debu jalanan.
Pada hujan senja itu
Engkau lempar tanggung jawab pada
nisan ibu yang membisu.
Barangkali engkau malu.
Darah birumu terlalu kental, untuk
menjaga mental kenyataan bahwa sejarah Tuhan menyatatku sebagai darah dagingmu.
Seumpama aku hanya kotoran
Yang membikin baju kebesaranmu jadi
berdebu.
Aku ingin jadi tanah saja,
selamanya dikubur dari purnama.
Aku memang bukan bima atau sadewa
Yang mampu bertarung merenggut
tahta raja
aku hanya jutaan tetes air mata
yang merindu purnama dimatamu, ayah.
*Puisi ini masuk dalam antologi puisi adalah hidupku.
*Puisi ini masuk dalam antologi puisi adalah hidupku.
Pagaralam,22
september 2011 17:09 wib.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar