Sajak Pelayaran Iman
Oleh: Imam Apriansyah
-Di selembar rasa itu
Ia mencoba memahat ukiran surat disemburat rindu.
lama ia cairkan gumpalan air mata yang hendak merebahkan
riciknya disajadah.
- Terlalu khusyuk ia menengadahkan doa, hingga lupa topik
apa yang akan ia tulis.
Ah Tuhan memang selalu pintar memahami maksud hambaNya.
Hinnga tak ada doa yang kekal tanpa jawaban.
-
Sesekali tinta yang ia toreh dicumbui debu, kertas
putih berubah lumut yang mengakar sebagai sebentuk noda. Ia menangisi dirinya
sejadinya, hingga menenggelamkan kertas yang ia buat selayak bahtera- mainan
masa kanak-kanaknya. Berlayar di lautan bening doa, mencari muara yang begitu
sulit untuk disinggahi. sebentuk badai dan hujan kerap mengganggu pelayaran
imannya. Namun jiwanya tak henti bermimpi menemui dermaga.
-
dalam hening malam ditengah samudra ia bersimpuh pasrah,
mencoba memahat kembali kapalnya:Ya Rabb, meski lemah kapal yang kutumpangi.
Meski aku hanyalah nahkoda yang memetakan jalur pelayaran sendiri, mengeja
cuaca yang kadang tak baik tuk dilayari. Lewat iman yang memucat, dan sepasang
kitab yang kau titipkan pada ia sang kekasih yang berwajah purnama. Aku ingin
terus menjelajahi cintamu yang permata.
Pagaralam 06 februari 2012 11;53

indah kak kata-katanya.... aku cemburu belom bisa nulis seindah itu...
BalasHapusmakasih dik, masih urak-urakan dan perlu banyak perbaikan...^^ kamu juga bisa kok nulis kayak gitu...
Hapus