Senin, 16 Januari 2012

Lomba Cipta Puisi "Rinai Rindu Untuk Muhammad Kekasih-Mu"


oleh Elaine Firdausza pada 16 Januari 2012 pukul 9:38
Bismillahirrahmanirrahiim....


Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh



Pada jingga kami tebar aroma
Di seling tajuk gita cinta rindu padamu duhai Muhammad Rasulku
Rajut shalawat, tergema pada denting hijrahmu
Dalam masyafah kawba kawsayni
Kau teguk amanah di sela titah Sang Rabby



Kayfa halukum ayyatuhal ikhwah? Semoga senantiasa sehat dan dalam naungan kasih-Nya. Semoga pula kucuran Rahman-Nya tak pernah berhenti mengaliri jiwa-jiwa kita dan keluarga. Aamin Yaa Mujibassailiin

Alhamdulillah, atas nama dayu tahmid kita kepada-Nya, akan anugerah nikmat, atas kesempurnaan ciptaan, atas rizki yang cukup, atas kesucian hati yang terus kita upayakan, dan atas ukhuwah yang terjalin di antara kita, sehingga menjadikan kita bersaudara yang seakan tumbuh dari satu alir darah.

Ada selaksa rindu yang selalu tumpah dalam sujud panjang di atas sajadah, kepada dia insan pilihan, yang hidup pada abad yang telah lalu, menjadi cahaya atas kejahiliyaan, yang tercipta sebagai uswah al-hasanah. Namun kisah tentang harum namanya terus mengalun dari lisan dan kitab-kitab yang telah termaktub. Dialah lelaki pilihan, putra Abdullah, Muhammad kekasih Allah.

Sehubungan dengan itu, maka kami berniat mengadakan Lomba Cipta Puisi, dengan Tema : “Rinai Rindu Untuk Muhammad Kekasih-Mu.

Adapun ketentuan/kriteria perlombaan puisi adalah sebagai berikut :

1. Peserta laki-laki dan perempuan.
2. Berupa karya sendiri atau original.
3. Bertemakan kerinduan kepada Rasul.
4. Karya belum pernah dipublikasikan di media apapun.
5. Dikirim ke email  rinai.rindu@rocketmail.com  Dalam bentuk attachment (tidak diletakkan di badan email). Dengan subjek "Judul Puisi-Nama Penulis"
6. Bentuk puisi bebas, ditulis dalam Bahasa Indonesia.
7. Karya paling lambat kami terima pada Tanggal 9 February 2012.
8. Peserta hanya diperbolehkan mengirimkan 1 karya.
9. Sertakan biodata narasi 100kata diakhir puisi.

10. Puisi akan dinilai oleh dewan juri:

1. Bapak Hasib Amrullah
2. Bapak A. Tirmidzi Mas'ud
3. Kakak Fauzan Al Haq
4. Kakak Izel Muhammad

11.Hal-hal yang menjadi penilaian oleh dewan juri, di antaranya :

1. Kesesuaian tema
2. Kekuatan metaphor dan diksi
3. Keindahan puisi
4. Kekuatan pesan\makna
5. Subjektivitas juri
6. Pemilihan judul

12. Keputusan dewan juri mutlak tidak dapat diganggu gugat.

13. Hadiah Pemenang:

1. Juara 1: Uang tunai Rp. 500.000,-
2. Juara 2: Uang tunai Rp. 300.000,-
3. Juara 3: Uang tunai Rp. 200.000,-

14. Penggumuman pemenangnya pada Tanggal 29 February 2012. Di FB: Elaine Firdausza dan Nawang Wulandari.
MP: http://firdausza.multiply.com

17. Dan insha Allah nanti ada 99Puisi yang terpilih akan dibukukan, dalam Antologi Puisi "Rinai Rindu Untuk Muhammad Kekasih-Mu"

Demikian pemberitahuan lomba puisi ini kami sampaikan, semoga terjalin kerjasama yang baik di antara penyelenggara, panitia dan peserta, serta pihak-pihak lainnya yang terlibat dalam lomba puisi ini. Dan semoga kelak kita semua mendapat uluran syafaat dari beliau Nabi Muhammad SAW. Aamiin Ya Rabbal alamin.

Setiap ketekunan menulis pasti memiliki fase perkembangannya sendiri, berkayalah meski hanya lewat aksara, biarlah semua mendengar apa yang terpendam dalam setiap matamu terpancar. Karena semua objek yang kita lalui, teramat sayang untuk tidak diaksarakan.


Petak hati yang mulai tanamkan berjuta kerinduan
Tertiup lirih pada desir tubuh ilalang
Di ziarah senja kami maraup bidang doa di julur jemari
Di tandan harap atas tebar usap purnamamu yaa Rasul
Hingga sejuk damai di isak tangis ini, akan melandai bersama balutan syafaatmu


Jazakumullah khairan katsiran


Penyelenggara
~ Elaine Firdausza & Nawang Wulandari ~



Mengaksaralah!. Hingga baris ilmu akan teralir dari basah tinta dan runcing penamu, dan sejarah tak kan menyesal mencatat namamu.

 Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

#Untuk mempermudah akses komunikasi antara peserta dan panitia.
Peserta diharapkan bergabung dengan group facebook "Rinai Rindu Untuk Muhammad Kekasih-Mu".
(http://www.facebook.com/groups/168824443223292/)  Terima kasih.

Minggu, 04 Desember 2011

belum selesai


Senja merona pelan. Mentari tinggal separuh ditenggelamkan samudra. Dan aku masih duduk disini, menatap cahaya jingga yang dipermainkan ombak. Meliuk-liuk jariku, menggores tepian pantai. Mencoba menggambar sketsa wajahmu.
            “Nadya…”
            Tiba-tiba suara khasmu membuyarkan konsentrasiku.
            “ayah…” . aku melongok tak percaya.
            “ayah, kau kah itu?”
            “kemarilah nak” dan aku menghambur kepelukanmu. Menangis sejadi-jadinya menumpahkan rindu yang terperih.
            “setiap hari aku menanti ayah disini, aku sudah kehilangan ibu, aku takut ayah juga akan…”
            “ssst, jangan dilanjutkan nak, ayo ayah lelah sekali.”

Sabtu, 29 Oktober 2011

Sesuatu itu.....

oleh:  Imam Apriansyah


tak terasa, sebentar lagi tugas ini akan aku dan teman-temanku selesaikan. tinggal beberapa tugas laporan yang mesti dirampungkan segera. banyak sekali hal yang aku dapatkan, terkhusus adalah sebuah pengalaman yang sungguh sangat berbekas dikalbu. memang seringkali halangan dan rintangan kerap menerjang langkah-langkah polos kami, baik itu datangnya dari guru-guru yang kami tumpangi sekolahnya, maupun beberapa siswa yang mungkin sedikit mengalami syndrom keremajaan mereka.
lelah selalu jadi alasan untuk mengeluh dalam tiap doa dan sholat kami, seakan tugas ini tak akan mampu kami selesaikan. yah, ada saja masalah yang dibuat orang untuk memburukkan citra kami sebagai orang yang merasa menumpang mencari ilmu disana.
salah satunya adalah beberapa oknum yang sulit sekali ditebak apa maunya, saat aku dan teman-temanku senyum eh tak sedikit pun balasan senyum hadir dibibirnya. namun serba salah juga, tidak senyum dikatakan sombong dengan segala pencarian kesalahan dan aib lainnya.
aku sempat berkata dengan salah seorang temanku "jujur aku lelah....".
ia pun menguatkan aku, "biarlah saat ini kita memang sering diremehkan, tapi belum tentu nasib mereka akan lebih baik dari kita, roda itu berputar. barangkali saat ini mereka berada diatas, belum tentu esok akan selalu berada disana".

sepertinya aku akan beranjak dari cerita itu, yah murid-murid yang membuatku selalu merasa berharga. tak semuanya,tapi itu cukup membuatku bangga. dizaman edan seperti ini masih ada murid sesopan mereka, "assalamualaikum pak". senyum dan sapa mereka, tak mampu kuhapus dari memoriku, akan kuingat selalu. semoga kelak dapat bertemu lagi, entah itu dimana.

BERSAMBUNG.....

Sabtu, 15 Oktober 2011

KETIKA KAU RAMU KEMARAHANMU


 KETIKA KAU RAMU KEMARAHANMU

Imam Apriansyah


perih perjalanan ini,mengusik hijau rerumputan yang kutanam dipinggir rasaku.
membakar filsafat roda waktu
terkadang menjelma sebagi sesosok boneka tak berdaya
yang hanya mampu mengalah pada sumpah serapah.

aku mencoba menggalah rasa marahmu kepada ratusan kalimat yang kulipat didahi
menahan malu karena umpatanmu bak rindu badai pada pantai yang rapuh

aku tak mengerti arti setiap celotehan menyakitkan yang keluar dari pabrik-pabrik aksaramu
setiap saat menyemburkan asap hitam yang menyesakkan dada perjalanan.

mengapa hanya aku yang kau rindui tuk meluapkan benci dikepalamu

petuah-petuahmu,
ah hanya ratusan rasa memabukkan yang menelan senyumku.
terlalu pahit tuk dimakan sebagai sebuah pemahaman.

aku ingin pergi saja dari larut kecemasan dan kebengisan
sekedar untuk menerjemahkan cuaca  laut yang memberi sinyal kemurkaan.

PPL



Rabu, 12 Oktober 2011

Purnama Dimatamu, Ayah




Imam Apriansyah

Kutulis puisi kesedihan
Agar kau mampu membaca harum tubuhku dengan air mata.

Hari dan bulan berlalu diwajahmu namun tak mampu kau hentikan
Hanya sekedar permainan waktu yang kau biarkan berlalu.

Aku sering merindumu, sebagai purnama yang tak pernah tahu kapan kan kugenggam
Separuh cahayaku redup, tak mengerti kemana kan kucari lampu seindah rembulan.

Pada sepi dan halusinasi, pada mimpi yang kadang tak pasti
Kurebahkan rindu ini. Rindu yang mustahil dapat kuisi sebagai panganan dalam kaleng-kaleng lebaran. Atau lagu nina bobo yang kerap kudengar dari jendela dirumah tetangga.


Dalam doa yang siang malam aku panjatkan:
Akankah engkau menyeka air mata rindu yang kadang tak mampu kulabuhkan.

Selalu saja rindu itu memudar sebagai seberkas cahaya purnama yang diliputi awan
Memancar sebagai percikan hujan dimataku.

Ayah…
Gedung-gedung megah itu menutupi hatimu
yang hendak menyembunyikan purnama dimatamu.
Meranggas sebagian sejarahku dalam aliran darah yang kau pancarkan dalam rahim ibu.
Yang kini terdampar dihempas perihnya debu-debu jalanan.

Pada hujan senja itu
Engkau lempar tanggung jawab pada nisan ibu yang membisu.
Barangkali engkau malu.
Darah birumu terlalu kental, untuk menjaga mental kenyataan bahwa sejarah Tuhan menyatatku sebagai darah dagingmu.

Seumpama aku hanya kotoran
Yang membikin baju kebesaranmu jadi berdebu.
Aku ingin jadi tanah saja, selamanya dikubur dari purnama.

Aku memang bukan bima atau sadewa
Yang mampu bertarung merenggut tahta raja
aku hanya jutaan tetes air mata yang merindu purnama dimatamu, ayah.

*Puisi ini masuk dalam antologi puisi adalah hidupku.

Pagaralam,22 september 2011 17:09 wib.
 
 

Sabtu, 01 Oktober 2011

Menghadapi PPL


Menghadapi PPL

Pernahkah dirimu mengalami ketakutan yang luar biasa saat pertama kali kamu akan menghadapi tugas PPL?. Berarti kamu sama sepertiku, saat ini satu hari menjelang dilaksanakannya tugas PPL. Hati dan pikiranku begitu ketakutan dibuatnya, betapa tidak dengan berbagai wejangan yang disampaikan dosen pembimbing kemarin membuatku semakin bertambah takut untuk menghadapinya senin nanti. Selama dua bulan kami akan digodok sebagai calon guru professional. Menghadapi anak-anak SD atau SMP barangkali suatu hal yang biasa buatku, karena murid murid di bimbel yang aku rintis rata-rata adalah siswa yang masih duduk di SD atau SMP. Tetapi yang semakin membuat pikiranku gelisah adalah aku nanti harus berhadapan dengan siswa SMK yang materi dan siswanya barangkali sangat kritis dan sulit.
            Ya Allah bimbing hambamu yang serba lemah ini…..
Pagaralam 1 oktober 2011