Allah...
saya tahu, tentu Engkau lebih mengerti, mengapa saya kepengen sekali, bahkan sering berdoa dan mengadu kepadamu supaya bisa merantau atau setidaknya mendapat pekerjaan di kota lain, tinggal jauh dari orang tua, memulai kehidupan dan nafas yang baru di sana.
Tak mungkin rembulan menyapa raut malam yang gelap berawankan hujan, tapi aku yakin purnama kan datang sebagai seberkas cahaya yang selalu kurindukan.....
Minggu, 02 Februari 2014
Rabu, 22 Januari 2014
Rapor Biru Untuk Jokowi
http://cakcholik.blogdetik.com/2013/10/21/rapor-biru-untuk-jokowi/
Entahlah saya
tertarik memilih judul ini sebagai ulasan atas artikel tulisan pak dhe, entahlah
pula mengapa saya begitu tertarik menjadikan artikel tentang pak jokowi yang di
tulis pakdhe sebagai ulasan saya. Barangkali karena rindunya saya sebagai
rakyat biasa ini, memiliki pemimpin setegas pak jokowi. Kita juga bisa melihat
betapa rakyat begitu mencintainya, setiap kali mengadakan blusukan selalu saja
masyarakat berebut bersalaman dengannya. Ya bukan rahasia umum lagi jika kiprah
pak jokowi begitu menarik untuk di simak, Untuk di jadikan teladan bagi para
pemimpin di seantero indonesia raya ini, saya setuju sekali program blusukan
pak jokowi, layak sekali diapresiasi
dengan raport biru. Sebab, saya merasa kinerja beliau memang begitu mengagumkan
di tengah kisruh para pemimpin yang saat ini hanya sibuk berkutat dengan masalah
korupsi yang tiada habisnya. Permasalahan intern partai yang kadang memuakkan.
Rakyat indonesia
juga sudah tentu merindukan sosok pemimpin yang merakyat sepertinya.
Kita lihat saja
nanti, apakah beliau juga turut meramaikan pemilu 2014 ini. Harapan saya beliau
tidak hanya memimpin jakarta, tetapi semoga bisa dan berkenan memimpin indonesia
kedepannya. Harapan saya pula, beliau tetap menjadi sahabat rakyat.
PAGAR ALAM, 22 JANUARI 2014
bahagia
ayah...
emak....
cita-cita saya mengajar akhirnya terwujud juga. saya bahagia sekali. semoga pun kalian. saya hanya ingin melihat kalian bangga....
emak....
cita-cita saya mengajar akhirnya terwujud juga. saya bahagia sekali. semoga pun kalian. saya hanya ingin melihat kalian bangga....
Senin, 09 Desember 2013
tentang......
ayah....
alhamdulillah, ini genap saya tiga bulan bekerja di sini sebagai operator kepala sekolah, ada banyak kebahagian dan juga air mata yang terkuras berjalan beriringan. ya, namanya juga ikut orang, saya kerap merasa terpinggirkan, sebab saya tahu, saya tak ada sesiapa di sini. kepala sekolah atau guru disini bukan siapa-siapa saya. hanya teman yang baru saya kenal.
beberapa minggu ini, saya begitu merasakan apa yang dikatakan pegawai lama yang pernah bekerja disana, saya tak pernah diijinkan untuk istirahat, jika saya lelah saya bercengkerama dengan teman-teman di kantor, baru sebentar saya menikmati makanan yang dibeli teman-teman, sudah pasti saya akan dipanggil, dan disuruh melanjutkan pekerjaan baru yang sebetulnya pekerjaan lama saja belum usai saya tuntaskan. terpaksa saya urung merampungkan sisa makan saya. lelah sekali, sebab teman-teman mengira saya tak mau berbaur dengan mereka, padahal mereka tahu jika kepala sekolah sudah stay di sekolah beragam pekerjaan yang sebetulnya sepele akan ia cari-cari. tapi mereka tak juga mengerti, malah sayup -sayup saya dengar mereka membicarakan dan menggunjingkan saya sok rajin, sok sibuk, ah ayah... saya lelah sekali, bukan cita cita saya jadi operator begini, saya berharap dapat mengajar sesuai cita-cita saya.
saya ingin pergi dari kedzoliman yang dilakukan rekan kerja dan atasan saya.
saya selalu mohon kepada Allah, agar berkenan mengangkat derajat saya. agar tak lagi diperlakukan semena-mena seperti ini...............
Senin, 29 Oktober 2012
INFO LOMBA
1. lomba puisi DL 30 NOVEMBER
https://www.facebook.com/notes/penerbit-liby/event-menulis-puisi-flash-fiction-100-puisi-50-ff-akan-dibukukan-grandprize-bb-v/151800128299346
2.DL 1 DESEMBER
https://www.facebook.com/groups/169713406459422/doc/330106090420152/
https://www.facebook.com/notes/penerbit-liby/event-menulis-puisi-flash-fiction-100-puisi-50-ff-akan-dibukukan-grandprize-bb-v/151800128299346
2.DL 1 DESEMBER
https://www.facebook.com/groups/169713406459422/doc/330106090420152/
Selasa, 25 September 2012
PUISI UNTUK HALAMAN MOTTO DISKRIPSI
Alasan inilah yang hendak kita baca;
sejak kita memulai pertaruhan yang ingin segera kita
tuntaskan
pelan-pelan kita mengumpulkan kalimat;
sesungguhnya dada kita
telah gontai menampung harapan-harapan.
Sudah berkertas-kertas kita tuliskan cita-cita. Di skripsi
kita, catatan-catatan, atau bantal tempat kita menidurkan kelelahan-kelelahan. Dan
malam begitu paham; kepada kita yang kerap ditumbuhi kecemasan-kecemasan.
Kemudian yang menjadikan
mata kita begitu khusyuk memandangi kepuasan, kerja keras kita ini, keluh kesah
ini; kelak akan membayar keringat yang pernah melipat-lipat kita. Hingga kita
lupa toga yang kita lempar di atas kepala, adalah hal paling membuat kita tak
mampu berkata-kata selain;’’dan takdir memang kita lah yang menentukan’’.
![]() |
Rabu, 18 April 2012
PUISI YANG KUTULIS KETIKA KKN
![]() |
HARAPAN KOSONG
OLEH: Imam Apriansyah
Tak ingin terlalu menyanjungkan sebuah harapan, karena
kutahu terkadang harapan hanya sebuah lagu omong kosong yang kerap dinyanyikan
disetiap pesta kesakitan.
Hamparan debu-debu jalanan yang pernah kupijak, hanya
memberi isyarat tentang gersang dan tandusnya sebuah percintaan.
Telah berlalu ratusan kalimat, ditanah-dimana aku dan kamu
saling bertegur sapa dan mulai memahami betapa rasa kehilangan itu adalah hal yang
teramat berat untuk kita renungkan
Namun perlahan aku mengerti mengapa bening air mata selalu
saja senang mengucur deras dilelehan luka
Adalah karena mata kita terlalu lemah menahan beban yang
sesungguhnya tak mampu ia tanggung.
Dengarlah sejenak alunan nada-nada angin yang berhembus dibibir
hatimu
Desah cuaca, lolongan langit dan sederetan musim yang
berlalu dimatamu, kuharap ia kan
lekat menjumpai senyum yang begitu sulit kudapat ketika seseorang begitu manja bermukim
diwajahmu.
Aku tak tahu seberapa besar kesabaran mampu kutanam dalam
diam
Sedangkan langit tak hentinya menjatuhkan tuduhan pada hujan
Malam meratapi kekegelapan
Dan angin berbisik dingin.
Aku ingin sekali ini saja membunuh rasa kehilangan yang tak
ingin mengekalkan kebahagiaan pada awan dan ilalang. Sekali saja.
Mingkik, 2 april 2012
TENTANG SEBUAH
PERASAAN
OLEH: Imam Apriansyah
Disebuah perjamuan pagi
Antara ranum mentari dan harum angin disisi bukit
Disana adalah sebangun istana berbunga yang harus kau tanami
Senyata putih peri dan bidadari yang selama ini mengganggu
lelap tawamu
Barangkali kaulah yang tahu mengapa langit hari ini begitu
membiru
Adalah karena garis-garis wajahmu terlanjur lekat dikanvas
hatiku
Biarpun kini seseorang tengah asyik mengukir pahatan luka
didinding hatimu yang putih
Namun kutahu ia hanya sepenggal cerita, yang masih bisa kau hapus
sebagai sebentuk kenangan terperih
Dinda…
Inilah istanaku, istana yang dibangun oleh ribuan kata
tentang hangat senyummu.
Mentari tak akan mampu menggelincirkan embun yang begitu
betah bertengger dimatamu.
Dan aku tahu esok atau entah kapan kau akan mengerti mengapa
bening air mata selalu saja jadi alasan doaku untukkmu. Karena aku disini ingin
jadi malam saja yang leluasa menemuimu dirimbun keluh.
Mingkik 12 maret 2012 05:57
Senin, 06 Februari 2012
Mimpi itu dan segala sesuatu yang memecah putih kakimu
Mimpi itu dan segala sesuatu yang memecah putih kakimu
Oleh: imam Apriansyah
1
Melintasi
barisan-barisan sandal jepit itu, tempat dimana kau rebahkan keinginanmu
memanjakan kakimu yang dipecah kerikil.
Tiap hari sepasang matamu rajin mencumbui harum sandal baru,
setiap subuh kau terburu-buru mengumpulkan keringat untuk ditukar dengan lekat
sandal dikakimu. Dan Ketika keringat terlanjur mengucur deras, ingatanmu
mengelupas pada sekedar sandal jepit baru. butir beras yang tanak untuk kau
suapkan di perutku yang manja, memetaforakan senyum dikakimu yang pecah-pecah.
2
Pernah suatu hari kau berbisik ditelingaku, tentang sebuah
gambar yang kau pajang di dinding doamu; kapan
emak bisa kesana, telunjukmu yang sayu itu mengelus potret ka’bah. Celengan
ayam yang kau simpan dibawah meja, disana terselip harum mimpi yang kau kemas
dalam setiap tuma’ninah. Aku menyelimuti mataku yang gemetar, meminta
bibir-bibir waktu tak mengecup penyesalan. Dan Sebelum penuh celengan, aku
ingin mandi dengan air mataku sendiri.
3
Seumpama kaki dan mimpimu adalah segores syair, barangkali
jariku tak akan mampu meremajakanmu dalam sebaris puisi. Meski mata dan penaku
bersusah payah menghabiskan usianya; memperpendek laju cinta yang menggumpal
sebagai sebentuk rindu, aku ingin meletakkan semburat kecupan dibibir kakimu
yang surga.Ibu.
Pagaralam, 07 februari 2012
Minggu, 05 Februari 2012
Sajak Pelayaran Iman
Sajak Pelayaran Iman
Oleh: Imam Apriansyah
-Di selembar rasa itu
Ia mencoba memahat ukiran surat disemburat rindu.
lama ia cairkan gumpalan air mata yang hendak merebahkan
riciknya disajadah.
- Terlalu khusyuk ia menengadahkan doa, hingga lupa topik
apa yang akan ia tulis.
Ah Tuhan memang selalu pintar memahami maksud hambaNya.
Hinnga tak ada doa yang kekal tanpa jawaban.
-
Sesekali tinta yang ia toreh dicumbui debu, kertas
putih berubah lumut yang mengakar sebagai sebentuk noda. Ia menangisi dirinya
sejadinya, hingga menenggelamkan kertas yang ia buat selayak bahtera- mainan
masa kanak-kanaknya. Berlayar di lautan bening doa, mencari muara yang begitu
sulit untuk disinggahi. sebentuk badai dan hujan kerap mengganggu pelayaran
imannya. Namun jiwanya tak henti bermimpi menemui dermaga.
-
dalam hening malam ditengah samudra ia bersimpuh pasrah,
mencoba memahat kembali kapalnya:Ya Rabb, meski lemah kapal yang kutumpangi.
Meski aku hanyalah nahkoda yang memetakan jalur pelayaran sendiri, mengeja
cuaca yang kadang tak baik tuk dilayari. Lewat iman yang memucat, dan sepasang
kitab yang kau titipkan pada ia sang kekasih yang berwajah purnama. Aku ingin
terus menjelajahi cintamu yang permata.
Pagaralam 06 februari 2012 11;53
Senin, 16 Januari 2012
Lomba Cipta Puisi "Rinai Rindu Untuk Muhammad Kekasih-Mu"
oleh
Elaine Firdausza pada
16 Januari 2012 pukul 9:38
Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Pada jingga kami tebar aroma
Di seling tajuk gita cinta rindu padamu duhai Muhammad Rasulku
Rajut shalawat, tergema pada denting hijrahmu
Dalam masyafah kawba kawsayni
Kau teguk amanah di sela titah Sang Rabby
Kayfa halukum ayyatuhal ikhwah? Semoga senantiasa sehat dan dalam naungan kasih-Nya. Semoga pula kucuran Rahman-Nya tak pernah berhenti mengaliri jiwa-jiwa kita dan keluarga. Aamin Yaa Mujibassailiin
Alhamdulillah, atas nama dayu tahmid kita kepada-Nya, akan anugerah nikmat, atas kesempurnaan ciptaan, atas rizki yang cukup, atas kesucian hati yang terus kita upayakan, dan atas ukhuwah yang terjalin di antara kita, sehingga menjadikan kita bersaudara yang seakan tumbuh dari satu alir darah.
Ada selaksa rindu yang selalu tumpah dalam sujud panjang di atas sajadah, kepada dia insan pilihan, yang hidup pada abad yang telah lalu, menjadi cahaya atas kejahiliyaan, yang tercipta sebagai uswah al-hasanah. Namun kisah tentang harum namanya terus mengalun dari lisan dan kitab-kitab yang telah termaktub. Dialah lelaki pilihan, putra Abdullah, Muhammad kekasih Allah.
Sehubungan dengan itu, maka kami berniat mengadakan Lomba Cipta Puisi, dengan Tema : “Rinai Rindu Untuk Muhammad Kekasih-Mu.
Adapun ketentuan/kriteria perlombaan puisi adalah sebagai berikut :
1. Peserta laki-laki dan perempuan.
2. Berupa karya sendiri atau original.
3. Bertemakan kerinduan kepada Rasul.
4. Karya belum pernah dipublikasikan di media apapun.
5. Dikirim ke email rinai.rindu@rocketmail.com Dalam bentuk attachment (tidak diletakkan di badan email). Dengan subjek "Judul Puisi-Nama Penulis"
6. Bentuk puisi bebas, ditulis dalam Bahasa Indonesia.
7. Karya paling lambat kami terima pada Tanggal 9 February 2012.
8. Peserta hanya diperbolehkan mengirimkan 1 karya.
9. Sertakan biodata narasi 100kata diakhir puisi.
10. Puisi akan dinilai oleh dewan juri:
1. Bapak Hasib Amrullah
2. Bapak A. Tirmidzi Mas'ud
3. Kakak Fauzan Al Haq
4. Kakak Izel Muhammad
11.Hal-hal yang menjadi penilaian oleh dewan juri, di antaranya :
1. Kesesuaian tema
2. Kekuatan metaphor dan diksi
3. Keindahan puisi
4. Kekuatan pesan\makna
5. Subjektivitas juri
6. Pemilihan judul
12. Keputusan dewan juri mutlak tidak dapat diganggu gugat.
13. Hadiah Pemenang:
1. Juara 1: Uang tunai Rp. 500.000,-
2. Juara 2: Uang tunai Rp. 300.000,-
3. Juara 3: Uang tunai Rp. 200.000,-
14. Penggumuman pemenangnya pada Tanggal 29 February 2012. Di FB: Elaine Firdausza dan Nawang Wulandari.
MP: http://firdausza.multiply.com
17. Dan insha Allah nanti ada 99Puisi yang terpilih akan dibukukan, dalam Antologi Puisi "Rinai Rindu Untuk Muhammad Kekasih-Mu"
Demikian pemberitahuan lomba puisi ini kami sampaikan, semoga terjalin kerjasama yang baik di antara penyelenggara, panitia dan peserta, serta pihak-pihak lainnya yang terlibat dalam lomba puisi ini. Dan semoga kelak kita semua mendapat uluran syafaat dari beliau Nabi Muhammad SAW. Aamiin Ya Rabbal alamin.
Setiap ketekunan menulis pasti memiliki fase perkembangannya sendiri, berkayalah meski hanya lewat aksara, biarlah semua mendengar apa yang terpendam dalam setiap matamu terpancar. Karena semua objek yang kita lalui, teramat sayang untuk tidak diaksarakan.
Petak hati yang mulai tanamkan berjuta kerinduan
Tertiup lirih pada desir tubuh ilalang
Di ziarah senja kami maraup bidang doa di julur jemari
Di tandan harap atas tebar usap purnamamu yaa Rasul
Hingga sejuk damai di isak tangis ini, akan melandai bersama balutan syafaatmu
Jazakumullah khairan katsiran
Penyelenggara
~ Elaine Firdausza & Nawang Wulandari ~
Mengaksaralah!. Hingga baris ilmu akan teralir dari basah tinta dan runcing penamu, dan sejarah tak kan menyesal mencatat namamu.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.
#Untuk mempermudah akses komunikasi antara peserta dan panitia.
Peserta diharapkan bergabung dengan group facebook "Rinai Rindu Untuk Muhammad Kekasih-Mu".
(http://www.facebook.com/groups/168824443223292/) Terima kasih.
Minggu, 04 Desember 2011
belum selesai
Senja merona pelan. Mentari tinggal separuh ditenggelamkan
samudra. Dan aku masih duduk disini, menatap cahaya jingga yang dipermainkan
ombak. Meliuk-liuk jariku, menggores tepian pantai. Mencoba menggambar sketsa
wajahmu.
“Nadya…”
Tiba-tiba
suara khasmu membuyarkan konsentrasiku.
“ayah…” .
aku melongok tak percaya.
“ayah, kau
kah itu?”
“kemarilah
nak” dan aku menghambur kepelukanmu. Menangis sejadi-jadinya menumpahkan rindu
yang terperih.
“setiap
hari aku menanti ayah disini, aku sudah kehilangan ibu, aku takut ayah juga
akan…”
“ssst,
jangan dilanjutkan nak, ayo ayah lelah sekali.”
Sabtu, 29 Oktober 2011
Sesuatu itu.....
oleh: Imam Apriansyah
tak terasa, sebentar lagi tugas ini akan aku dan teman-temanku selesaikan. tinggal beberapa tugas laporan yang mesti dirampungkan segera. banyak sekali hal yang aku dapatkan, terkhusus adalah sebuah pengalaman yang sungguh sangat berbekas dikalbu. memang seringkali halangan dan rintangan kerap menerjang langkah-langkah polos kami, baik itu datangnya dari guru-guru yang kami tumpangi sekolahnya, maupun beberapa siswa yang mungkin sedikit mengalami syndrom keremajaan mereka.
lelah selalu jadi alasan untuk mengeluh dalam tiap doa dan sholat kami, seakan tugas ini tak akan mampu kami selesaikan. yah, ada saja masalah yang dibuat orang untuk memburukkan citra kami sebagai orang yang merasa menumpang mencari ilmu disana.
salah satunya adalah beberapa oknum yang sulit sekali ditebak apa maunya, saat aku dan teman-temanku senyum eh tak sedikit pun balasan senyum hadir dibibirnya. namun serba salah juga, tidak senyum dikatakan sombong dengan segala pencarian kesalahan dan aib lainnya.
aku sempat berkata dengan salah seorang temanku "jujur aku lelah....".
ia pun menguatkan aku, "biarlah saat ini kita memang sering diremehkan, tapi belum tentu nasib mereka akan lebih baik dari kita, roda itu berputar. barangkali saat ini mereka berada diatas, belum tentu esok akan selalu berada disana".
sepertinya aku akan beranjak dari cerita itu, yah murid-murid yang membuatku selalu merasa berharga. tak semuanya,tapi itu cukup membuatku bangga. dizaman edan seperti ini masih ada murid sesopan mereka, "assalamualaikum pak". senyum dan sapa mereka, tak mampu kuhapus dari memoriku, akan kuingat selalu. semoga kelak dapat bertemu lagi, entah itu dimana.
BERSAMBUNG.....
tak terasa, sebentar lagi tugas ini akan aku dan teman-temanku selesaikan. tinggal beberapa tugas laporan yang mesti dirampungkan segera. banyak sekali hal yang aku dapatkan, terkhusus adalah sebuah pengalaman yang sungguh sangat berbekas dikalbu. memang seringkali halangan dan rintangan kerap menerjang langkah-langkah polos kami, baik itu datangnya dari guru-guru yang kami tumpangi sekolahnya, maupun beberapa siswa yang mungkin sedikit mengalami syndrom keremajaan mereka.
lelah selalu jadi alasan untuk mengeluh dalam tiap doa dan sholat kami, seakan tugas ini tak akan mampu kami selesaikan. yah, ada saja masalah yang dibuat orang untuk memburukkan citra kami sebagai orang yang merasa menumpang mencari ilmu disana.
salah satunya adalah beberapa oknum yang sulit sekali ditebak apa maunya, saat aku dan teman-temanku senyum eh tak sedikit pun balasan senyum hadir dibibirnya. namun serba salah juga, tidak senyum dikatakan sombong dengan segala pencarian kesalahan dan aib lainnya.
aku sempat berkata dengan salah seorang temanku "jujur aku lelah....".
ia pun menguatkan aku, "biarlah saat ini kita memang sering diremehkan, tapi belum tentu nasib mereka akan lebih baik dari kita, roda itu berputar. barangkali saat ini mereka berada diatas, belum tentu esok akan selalu berada disana".
sepertinya aku akan beranjak dari cerita itu, yah murid-murid yang membuatku selalu merasa berharga. tak semuanya,tapi itu cukup membuatku bangga. dizaman edan seperti ini masih ada murid sesopan mereka, "assalamualaikum pak". senyum dan sapa mereka, tak mampu kuhapus dari memoriku, akan kuingat selalu. semoga kelak dapat bertemu lagi, entah itu dimana.
BERSAMBUNG.....
Sabtu, 15 Oktober 2011
KETIKA KAU RAMU KEMARAHANMU
KETIKA KAU RAMU KEMARAHANMU
Imam Apriansyah
perih perjalanan ini,mengusik hijau rerumputan yang kutanam dipinggir rasaku.
membakar filsafat roda waktu
terkadang menjelma sebagi sesosok boneka tak berdaya
yang hanya mampu mengalah pada sumpah serapah.
aku mencoba menggalah rasa marahmu kepada ratusan kalimat yang kulipat didahi
menahan malu karena umpatanmu bak rindu badai pada pantai yang rapuh
aku tak mengerti arti setiap celotehan menyakitkan yang keluar dari pabrik-pabrik aksaramu
setiap saat menyemburkan asap hitam yang menyesakkan dada perjalanan.
mengapa hanya aku yang kau rindui tuk meluapkan benci dikepalamu
petuah-petuahmu,
ah hanya ratusan rasa memabukkan yang menelan senyumku.
terlalu pahit tuk dimakan sebagai sebuah pemahaman.
aku ingin pergi saja dari larut kecemasan dan kebengisan
sekedar untuk menerjemahkan cuaca laut yang memberi sinyal kemurkaan.
Rabu, 12 Oktober 2011
Purnama Dimatamu, Ayah
Imam Apriansyah
Kutulis puisi kesedihan
Agar kau mampu membaca harum
tubuhku dengan air mata.
Hari dan bulan berlalu diwajahmu
namun tak mampu kau hentikan
Hanya sekedar permainan waktu yang
kau biarkan berlalu.
Aku sering merindumu, sebagai
purnama yang tak pernah tahu kapan kan
kugenggam
Separuh cahayaku redup, tak
mengerti kemana kan
kucari lampu seindah rembulan.
Pada sepi dan halusinasi, pada
mimpi yang kadang tak pasti
Kurebahkan rindu ini. Rindu yang
mustahil dapat kuisi sebagai panganan dalam kaleng-kaleng lebaran. Atau lagu
nina bobo yang kerap kudengar dari jendela dirumah tetangga.
Dalam doa yang siang malam aku
panjatkan:
Akankah engkau menyeka air mata
rindu yang kadang tak mampu kulabuhkan.
Selalu saja rindu itu memudar
sebagai seberkas cahaya purnama yang diliputi awan
Memancar sebagai percikan hujan
dimataku.
Ayah…
Gedung-gedung megah itu menutupi
hatimu
yang hendak menyembunyikan purnama
dimatamu.
Meranggas sebagian sejarahku dalam
aliran darah yang kau pancarkan dalam rahim ibu.
Yang kini terdampar dihempas perihnya
debu-debu jalanan.
Pada hujan senja itu
Engkau lempar tanggung jawab pada
nisan ibu yang membisu.
Barangkali engkau malu.
Darah birumu terlalu kental, untuk
menjaga mental kenyataan bahwa sejarah Tuhan menyatatku sebagai darah dagingmu.
Seumpama aku hanya kotoran
Yang membikin baju kebesaranmu jadi
berdebu.
Aku ingin jadi tanah saja,
selamanya dikubur dari purnama.
Aku memang bukan bima atau sadewa
Yang mampu bertarung merenggut
tahta raja
aku hanya jutaan tetes air mata
yang merindu purnama dimatamu, ayah.
*Puisi ini masuk dalam antologi puisi adalah hidupku.
*Puisi ini masuk dalam antologi puisi adalah hidupku.
Pagaralam,22
september 2011 17:09 wib.
Sabtu, 01 Oktober 2011
Menghadapi PPL
Menghadapi PPL
Pernahkah dirimu
mengalami ketakutan yang luar biasa saat pertama kali kamu akan menghadapi
tugas PPL?. Berarti kamu sama sepertiku, saat ini satu hari menjelang
dilaksanakannya tugas PPL. Hati dan pikiranku begitu ketakutan dibuatnya,
betapa tidak dengan berbagai wejangan yang disampaikan dosen pembimbing kemarin
membuatku semakin bertambah takut untuk menghadapinya senin nanti. Selama dua
bulan kami akan digodok sebagai calon guru professional. Menghadapi anak-anak
SD atau SMP barangkali suatu hal yang biasa buatku, karena murid murid di
bimbel yang aku rintis rata-rata adalah siswa yang masih duduk di SD atau SMP. Tetapi
yang semakin membuat pikiranku gelisah adalah aku nanti harus berhadapan dengan
siswa SMK yang materi dan siswanya barangkali sangat kritis dan sulit.
Ya Allah bimbing hambamu yang serba lemah ini…..
Pagaralam 1 oktober
2011
Rabu, 28 September 2011
Selasa, 27 September 2011
Sebuah Semangat Menggores Pena
Sebuah Semangat Menggores Pena
(Oleh Imam apriansyah)
24desember 2010, cuaca senja berhias rintik gerimis. Pelangi membentang
merona diufuk timur kota
pagaralam. Gunung denpo nampak tertunduk sendu diselimuti awan. Saya mencari
rintik-rintik imajinasi dibawah langit pagaralam yang jingga menawan. Rindu
menggores baris-baris puisi atau fiksi.
Pelipur lara dikala hidup tak lagi memberi arti.
Saya petik lembaran buku-buku usang
ditaman aksara. Mochtar lubis mengajarkan saya semangat menulis dan segudang
karya kreatifnya .Lewat cerpen si jamal(1950) dan perempuan(1956). seorang
sahabat membisikan kata-kata penyemangat. Jadi penulis harus baca buah karya
para penggores pena seperti piepit senja, asma nadia, fahri asiza,gola gong,
dan helvy tiana rosa.
Kau juga mestu menjelajah ukiran
sajak chairil anwar, karya sastra asrul sani idrus hamka, sedertan karya yang
tak habis dimakan masa.
Dalam segala kenangan yang mengendap dalam memori saya,menjadi
penulis telah saya impikan sejak usia yang sedang merajut remaja, kala
segalanya indah bertabur cinta anak belia.Diary Jadi saksi bisu.sastra telah
merubah paradigma hidup saya. Menjadi hidup yang lebih ada dari sekedar
ketiadaan.
Pengetahuan saya tentang segala
dunia goresan pena dan sederet apreasi saya terhadapnya semakin bertambah saat
saya mulai beranjak dibangku SMA. Bertambahnya volume motivasi yang membahana
dalam imajinasi saya saat cuaca kota
telah beranjak dewasa.
Berdiri tegap menyongsong arus
globalisasi yang mulai merambati kota
yang baru berdiri ini. Meski suasana sastra dan dunia kepenulisan masih awam
dimata masyarakatnya. Jikadibandingkan dengan
kota jogja atau sebuah kota
yang dijuluki paris
van java, tentu sangat jauh perbedaannya. Namun minat baca masyarakatnya boleh
dikatakan cukup tinggi.hal ini menjadi titik awal mengapa saya begitu tergugah
untuk terjun menekuni dunia pena. Saya
berharap dengan memprokalmirkan diri saya kedunia pena, akan ada beberapa
industri dunia buku yang akan bertandang kekota yang haus akan bacaan yang
bermanfaat ini.
Seklaipun
perkenalan saya dengan dunia dunia pena terbatas dengan selembar alasan. Berupa
fasilitas yang sedikit sekaldan tentu tak mencukupi. Namun sebuah majalh sastra
telah menghidupkan lentera semangatku untuk terus menapakinya.
Para
penyair Indonesia
seperti H.B jasssin, taufik ismail, dan jamal D Rahman yang memberikan kesan mendalam bagi saya. Dan saya mulai menikmati
dunia pena yang saya tapaki. Mulai percaya diri mengikuti berbagai kompetisi
menulis yang boleh dikataka pesertanya lebih dulu memsuki dunia yang bagiku
masih baru ini. Beberapa karya saya sempat diterbitkan, mseki sebelumnya
mendapat berbagai penolakkan. Namun hal itu malah menambah semangat saya
semakin membahana.
Asrul sani pernah mengatakan bahwa seseorang pengarang dunia paling banyak
menemukan diri dan bakatnya sebagai seorang pengarang adalah ketika mereka
berada disekolah menengah. Saya
merasa pena ini telah menggores
karya sejak masa SMP. Hal ini membantu
saya untuk terus berkarya meski masa penekunana itu baru muncul ketika berda dalam suasana kampus.
Saya selau berusaha berkaca pada
penulis-penulis senior dengan selalu belajar dan membaca kary-karya phenomenal
mereka. Agar pena saya semakin tajam dam menembus cakrawala satra lebih dalam.
Saya berharap langit jingga yang menyelimuti kota pagaralam diujung
senja ini akan berubah bintang bertaburan karya karya anak-anak yang lahir
ditanah yang berada diakai gunung dempo yang indah.
Pagaralam
, pria penyimpan air mata 27 april 2011.
21:00 wib
Pantai Kenangan( Bersama Bunda)
Pantai Kenangan(
Bersama Bunda)
Oleh Imam Apriansyah
Serpihan badai mencengkram erat puing-puing kelemahanku
Gerimis abadi pun ikut meramaikan aroma pantai yang kelabu
Membasahi tepian bahterah yang rusak diterpa parang
gelombang
Diberanda masih berwarna duka
Dalam hiruk pikuk perkabungan yang tajam menerkam tiap sudut
kenangan
Karang-karang membisu
Dihempas puing-puing buih keruh
Langit pagi berkabut
Hitam kelabu terpendar dipermainkan badai gemuruh
Diruang usang berjelaga dengan lantai kelabu
Kerlipan senyummu merapuh membeku
Air mata jadi doa pengiring tubuhmu yang membisu
Membujur diranjang yang panjang berhias keranda kayu
Ratusan kalimat cinta tergores dilautan hatimu
Yang setiap senja tiba kau ukir bersama layar-layar bahterah
yang bersandar didermaga
Kini terhapus tiap
baitnya
Dijilati ombak perkabungan yang meremukkan asa
Dan diri ini kian rapuh
Terkapar dihempas gelombang kesedihan
Bunda…
Merajam sudah bau busuk cuaca
Kucari celah tuk dapat menghapus tiap jengkal duka
Namun tubuh ini seolah tak bernyawa
Tenggelam dalam hamparan panorama kuncup kamboja
Sulit nian kan
kurengkuh lagi hangat kasihmu
Terpasung sisa bau karangan bunga ditanah merah yang abadi
Terkubur asaku yang mendamba menghabiskan sisa senja
dipantai biru
Kala tubuhmu masih mampu menjadi tempatku mengadu dahulu
Bunda …
Laut seperti memantulkan sepasang kesedihan
Dan aku masih duduk disini, dipasir pantai kenangan
Menggores-gores bibir pantai kala senja tiba
Agar tak lagi merajam sukmaku yang sunyi tanpamu
Pagaralam, pria penyimpan air
mata, 07.05.2011. 12.15 wib Nama
Kala Kalbu Meramu Rindu
Kala Kalbu Meramu Rindu
(Oleh Imam Apriansyah)
Ketika bulan memajang rindunya pada ramadhan
Malaikat-malaikat bersayap putih menggetarkan telungkup
rindu
Runtuhkan kesunyian denting
malam
Aroma air mata keimanan terbentang, menghias takbir dan salam ditepian kalbu,
tentram.
Sujud syukur kesyahduhan menggema dipenjuru alam
Merangkul hektaran rindu bulan bercahaya kemenangan
Indah damai, amal pahala dilipatgandakan
Rahmat dan ampunan tercurah dirisau keresahan, menjelma
merona pintu surga dibentangkan.
Riuh tetabuhan bunyi dentang genderang sahur
Ramaikan sebongkah rindu tanpa sayap
Kendalikan nafsu diri dipepat kalbu, menggores keutamaan
ditiap geliat waktu.
Penuh gairah ganjaran
Segala kebaikan meramu haluan, mencipta cahaya menyinari
jalan menghapus goresan kelam.
Duhai bulan bersayap rahmat
Duhai bulan bertahta mulia dicipta,
Ramadhan bermahkota mulia namanya,
Yang Tuhan datangkan kembali mewarnai hidupku, malu aku yang
tak mampu mensyukuri nikmat RamadhanMu dahulu
Takabur kufur mencandui jiwaku
Merasa sempurna bersayap patah, membantai segala perintahMu
Menjalari keangkuhanku
Harapan yang kadang menjelma keharusan
Kupinta dengan paksa seolah ku paling tahu kebenaran dan
Ketika tak Kau kabulkan
Jiwa merasa tak pernah nikmat diberikan
Ya Rabb Dalam segala lemah imanku
Doaku mendekap segala keluh kesah keresahan batinku,yang
berdosa karna tergoda cakrawala nafsu
Izinkan aku mengetuk guratan cahaya RamadhanMu
Izinkan aku bersua rindu ditiap sujud ibadahku
Demi bulan yang kau muliakan ampuni hina kerapuhanku.
Pagaralam , 6 juli 2011.
*puisi ini masuk dalam antologi puisi mengukir cahaya ramadhan
*puisi ini masuk dalam antologi puisi mengukir cahaya ramadhan
Langganan:
Postingan (Atom)











