Minggu, 02 Februari 2014

doa saya kemarin dan hari ini...

Allah...
saya tahu, tentu Engkau lebih mengerti, mengapa saya kepengen sekali, bahkan sering berdoa dan mengadu kepadamu supaya bisa merantau atau setidaknya mendapat pekerjaan di kota lain, tinggal jauh dari orang tua,  memulai kehidupan dan nafas yang baru di sana.

Rabu, 22 Januari 2014

Rapor Biru Untuk Jokowi


 http://cakcholik.blogdetik.com/2013/10/21/rapor-biru-untuk-jokowi/



Entahlah saya tertarik memilih judul ini sebagai ulasan atas artikel tulisan pak dhe, entahlah pula mengapa saya begitu tertarik menjadikan artikel tentang pak jokowi yang di tulis pakdhe sebagai ulasan saya. Barangkali karena rindunya saya sebagai rakyat biasa ini, memiliki pemimpin setegas pak jokowi. Kita juga bisa melihat betapa rakyat begitu mencintainya, setiap kali mengadakan blusukan selalu saja masyarakat berebut bersalaman dengannya. Ya bukan rahasia umum lagi jika kiprah pak jokowi begitu menarik untuk di simak, Untuk di jadikan teladan bagi para pemimpin di seantero indonesia raya ini, saya setuju sekali program blusukan pak jokowi,  layak sekali diapresiasi dengan raport biru. Sebab, saya merasa kinerja beliau memang begitu mengagumkan di tengah kisruh para pemimpin yang saat ini hanya sibuk berkutat dengan masalah korupsi yang tiada habisnya. Permasalahan intern partai yang kadang memuakkan.
Rakyat indonesia juga sudah tentu merindukan sosok pemimpin yang merakyat sepertinya.
Kita lihat saja nanti, apakah beliau juga turut meramaikan pemilu 2014 ini. Harapan saya beliau tidak hanya memimpin jakarta, tetapi semoga bisa dan berkenan memimpin indonesia kedepannya. Harapan saya pula, beliau tetap menjadi sahabat rakyat.



PAGAR ALAM, 22 JANUARI 2014



bahagia

ayah...
emak....
cita-cita saya mengajar akhirnya terwujud juga. saya bahagia sekali. semoga pun kalian. saya hanya ingin melihat kalian bangga....

Senin, 09 Desember 2013

tentang......


ayah....
alhamdulillah, ini genap saya tiga bulan bekerja di sini  sebagai operator kepala sekolah, ada banyak kebahagian dan juga air mata yang terkuras berjalan beriringan. ya, namanya juga ikut orang, saya kerap merasa terpinggirkan, sebab saya tahu, saya tak ada sesiapa di sini. kepala sekolah atau guru disini bukan siapa-siapa saya. hanya teman yang baru saya kenal.
beberapa minggu ini, saya begitu merasakan apa yang dikatakan pegawai lama yang pernah bekerja disana, saya tak pernah diijinkan untuk istirahat, jika saya lelah saya bercengkerama dengan teman-teman di kantor, baru sebentar saya menikmati makanan yang dibeli teman-teman, sudah pasti saya akan dipanggil, dan disuruh melanjutkan pekerjaan baru yang sebetulnya pekerjaan lama saja belum usai saya tuntaskan. terpaksa saya urung merampungkan sisa makan saya. lelah sekali, sebab teman-teman mengira saya tak mau berbaur dengan mereka, padahal mereka tahu jika kepala sekolah sudah stay di sekolah beragam pekerjaan yang sebetulnya sepele akan ia cari-cari. tapi mereka tak juga mengerti, malah sayup -sayup saya dengar mereka membicarakan dan menggunjingkan saya sok rajin, sok sibuk, ah ayah... saya lelah sekali, bukan cita cita saya jadi operator begini, saya berharap dapat mengajar sesuai cita-cita saya.
saya ingin pergi dari kedzoliman yang dilakukan rekan kerja dan atasan saya.
saya selalu mohon kepada Allah,  agar berkenan mengangkat derajat saya. agar tak lagi diperlakukan semena-mena seperti ini...............


Senin, 29 Oktober 2012

INFO LOMBA

1. lomba puisi DL 30 NOVEMBER
https://www.facebook.com/notes/penerbit-liby/event-menulis-puisi-flash-fiction-100-puisi-50-ff-akan-dibukukan-grandprize-bb-v/151800128299346
2.DL 1 DESEMBER
https://www.facebook.com/groups/169713406459422/doc/330106090420152/

Selasa, 25 September 2012

PUISI UNTUK HALAMAN MOTTO DISKRIPSI


Alasan inilah yang hendak kita baca;
sejak kita memulai pertaruhan yang ingin segera kita tuntaskan
pelan-pelan kita mengumpulkan kalimat;

sesungguhnya dada kita telah gontai menampung harapan-harapan.

Sudah berkertas-kertas kita tuliskan cita-cita. Di skripsi kita, catatan-catatan, atau bantal tempat kita menidurkan kelelahan-kelelahan. Dan malam begitu paham; kepada kita yang kerap ditumbuhi kecemasan-kecemasan.

Kemudian  yang menjadikan mata kita begitu khusyuk memandangi kepuasan, kerja keras kita ini, keluh kesah ini; kelak akan membayar keringat yang pernah melipat-lipat kita. Hingga kita lupa toga yang kita lempar di atas kepala, adalah hal paling membuat kita tak mampu berkata-kata selain;’’dan takdir memang kita lah yang menentukan’’.



Rabu, 18 April 2012

PUISI YANG KUTULIS KETIKA KKN



HARAPAN KOSONG

OLEH: Imam Apriansyah

Tak ingin terlalu menyanjungkan sebuah harapan, karena kutahu terkadang harapan hanya sebuah lagu omong kosong yang kerap dinyanyikan disetiap pesta kesakitan.
Hamparan debu-debu jalanan yang pernah kupijak, hanya memberi isyarat tentang gersang dan tandusnya sebuah percintaan.
Telah berlalu ratusan kalimat, ditanah-dimana aku dan kamu saling bertegur sapa dan mulai memahami betapa rasa kehilangan itu adalah hal yang teramat berat untuk kita renungkan
Namun perlahan aku mengerti mengapa bening air mata selalu saja senang mengucur deras dilelehan luka
Adalah karena mata kita terlalu lemah menahan beban yang sesungguhnya tak mampu ia tanggung.

Dengarlah sejenak alunan nada-nada angin yang berhembus dibibir hatimu
Desah cuaca, lolongan langit dan sederetan musim yang berlalu dimatamu, kuharap ia kan lekat menjumpai senyum yang begitu sulit kudapat ketika seseorang begitu manja bermukim diwajahmu.
Aku tak tahu seberapa besar kesabaran mampu kutanam dalam diam
Sedangkan langit tak hentinya menjatuhkan tuduhan pada hujan
Malam meratapi kekegelapan
Dan angin berbisik dingin.

Aku ingin sekali ini saja membunuh rasa kehilangan yang tak ingin mengekalkan kebahagiaan pada awan dan ilalang. Sekali saja.

Mingkik, 2 april 2012


TENTANG SEBUAH PERASAAN

OLEH: Imam Apriansyah

Disebuah perjamuan pagi
Antara ranum mentari dan harum angin disisi bukit
Disana adalah sebangun istana berbunga yang harus kau tanami
Senyata putih peri dan bidadari yang selama ini mengganggu lelap tawamu

Barangkali kaulah yang tahu mengapa langit hari ini begitu membiru
Adalah karena garis-garis wajahmu terlanjur lekat dikanvas hatiku
Biarpun kini seseorang tengah asyik mengukir pahatan luka didinding hatimu yang putih
Namun kutahu ia hanya sepenggal cerita, yang masih bisa kau hapus sebagai sebentuk kenangan terperih

Dinda…
Inilah istanaku, istana yang dibangun oleh ribuan kata tentang hangat senyummu.
Mentari tak akan mampu menggelincirkan embun yang begitu betah bertengger dimatamu.
Dan aku tahu esok atau entah kapan kau akan mengerti mengapa bening air mata selalu saja jadi alasan doaku untukkmu. Karena aku disini ingin jadi malam saja yang leluasa menemuimu dirimbun keluh.

Mingkik 12 maret 2012 05:57

Senin, 06 Februari 2012

Mimpi itu dan segala sesuatu yang memecah putih kakimu


Mimpi itu dan segala sesuatu yang memecah putih kakimu

Oleh: imam Apriansyah

1
Melintasi  barisan-barisan sandal jepit itu, tempat dimana kau rebahkan keinginanmu memanjakan kakimu yang dipecah kerikil.
Tiap hari sepasang matamu rajin mencumbui harum sandal baru, setiap subuh kau terburu-buru mengumpulkan keringat untuk ditukar dengan lekat sandal dikakimu. Dan Ketika keringat terlanjur mengucur deras, ingatanmu mengelupas pada sekedar sandal jepit baru. butir beras yang tanak untuk kau suapkan di perutku yang manja, memetaforakan senyum dikakimu yang pecah-pecah.

2
Pernah suatu hari kau berbisik ditelingaku, tentang sebuah gambar yang kau pajang di dinding doamu; kapan emak bisa kesana, telunjukmu yang sayu itu mengelus potret ka’bah. Celengan ayam yang kau simpan dibawah meja, disana terselip harum mimpi yang kau kemas dalam setiap tuma’ninah. Aku menyelimuti mataku yang gemetar, meminta bibir-bibir waktu tak mengecup penyesalan. Dan Sebelum penuh celengan, aku ingin mandi dengan air mataku sendiri.

3
Seumpama kaki dan mimpimu adalah segores syair, barangkali jariku tak akan mampu meremajakanmu dalam sebaris puisi. Meski mata dan penaku bersusah payah menghabiskan usianya; memperpendek laju cinta yang menggumpal sebagai sebentuk rindu, aku ingin meletakkan semburat kecupan dibibir kakimu yang surga.Ibu.

Pagaralam, 07 februari 2012

Minggu, 05 Februari 2012

Sajak Pelayaran Iman


Sajak Pelayaran Iman

Oleh: Imam Apriansyah

-Di selembar rasa itu
Ia mencoba memahat ukiran surat disemburat rindu.
lama ia cairkan gumpalan air mata yang hendak merebahkan riciknya disajadah.

- Terlalu khusyuk ia menengadahkan doa, hingga lupa topik apa yang akan ia tulis.
Ah Tuhan memang selalu pintar memahami maksud hambaNya. Hinnga tak ada doa yang kekal tanpa jawaban.

-         Sesekali tinta yang ia toreh dicumbui debu, kertas putih berubah lumut yang mengakar sebagai sebentuk noda. Ia menangisi dirinya sejadinya, hingga menenggelamkan kertas yang ia buat selayak bahtera- mainan masa kanak-kanaknya. Berlayar di lautan bening doa, mencari muara yang begitu sulit untuk disinggahi. sebentuk badai dan hujan kerap mengganggu pelayaran imannya. Namun jiwanya tak henti bermimpi menemui dermaga.


-         dalam hening malam ditengah samudra ia bersimpuh pasrah, mencoba memahat kembali kapalnya:Ya Rabb, meski lemah kapal yang kutumpangi. Meski aku hanyalah nahkoda yang memetakan jalur pelayaran sendiri, mengeja cuaca yang kadang tak baik tuk dilayari. Lewat iman yang memucat, dan sepasang kitab yang kau titipkan pada ia sang kekasih yang berwajah purnama. Aku ingin terus menjelajahi cintamu yang permata.

Pagaralam 06 februari 2012 11;53

Senin, 16 Januari 2012

Lomba Cipta Puisi "Rinai Rindu Untuk Muhammad Kekasih-Mu"


oleh Elaine Firdausza pada 16 Januari 2012 pukul 9:38
Bismillahirrahmanirrahiim....


Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh



Pada jingga kami tebar aroma
Di seling tajuk gita cinta rindu padamu duhai Muhammad Rasulku
Rajut shalawat, tergema pada denting hijrahmu
Dalam masyafah kawba kawsayni
Kau teguk amanah di sela titah Sang Rabby



Kayfa halukum ayyatuhal ikhwah? Semoga senantiasa sehat dan dalam naungan kasih-Nya. Semoga pula kucuran Rahman-Nya tak pernah berhenti mengaliri jiwa-jiwa kita dan keluarga. Aamin Yaa Mujibassailiin

Alhamdulillah, atas nama dayu tahmid kita kepada-Nya, akan anugerah nikmat, atas kesempurnaan ciptaan, atas rizki yang cukup, atas kesucian hati yang terus kita upayakan, dan atas ukhuwah yang terjalin di antara kita, sehingga menjadikan kita bersaudara yang seakan tumbuh dari satu alir darah.

Ada selaksa rindu yang selalu tumpah dalam sujud panjang di atas sajadah, kepada dia insan pilihan, yang hidup pada abad yang telah lalu, menjadi cahaya atas kejahiliyaan, yang tercipta sebagai uswah al-hasanah. Namun kisah tentang harum namanya terus mengalun dari lisan dan kitab-kitab yang telah termaktub. Dialah lelaki pilihan, putra Abdullah, Muhammad kekasih Allah.

Sehubungan dengan itu, maka kami berniat mengadakan Lomba Cipta Puisi, dengan Tema : “Rinai Rindu Untuk Muhammad Kekasih-Mu.

Adapun ketentuan/kriteria perlombaan puisi adalah sebagai berikut :

1. Peserta laki-laki dan perempuan.
2. Berupa karya sendiri atau original.
3. Bertemakan kerinduan kepada Rasul.
4. Karya belum pernah dipublikasikan di media apapun.
5. Dikirim ke email  rinai.rindu@rocketmail.com  Dalam bentuk attachment (tidak diletakkan di badan email). Dengan subjek "Judul Puisi-Nama Penulis"
6. Bentuk puisi bebas, ditulis dalam Bahasa Indonesia.
7. Karya paling lambat kami terima pada Tanggal 9 February 2012.
8. Peserta hanya diperbolehkan mengirimkan 1 karya.
9. Sertakan biodata narasi 100kata diakhir puisi.

10. Puisi akan dinilai oleh dewan juri:

1. Bapak Hasib Amrullah
2. Bapak A. Tirmidzi Mas'ud
3. Kakak Fauzan Al Haq
4. Kakak Izel Muhammad

11.Hal-hal yang menjadi penilaian oleh dewan juri, di antaranya :

1. Kesesuaian tema
2. Kekuatan metaphor dan diksi
3. Keindahan puisi
4. Kekuatan pesan\makna
5. Subjektivitas juri
6. Pemilihan judul

12. Keputusan dewan juri mutlak tidak dapat diganggu gugat.

13. Hadiah Pemenang:

1. Juara 1: Uang tunai Rp. 500.000,-
2. Juara 2: Uang tunai Rp. 300.000,-
3. Juara 3: Uang tunai Rp. 200.000,-

14. Penggumuman pemenangnya pada Tanggal 29 February 2012. Di FB: Elaine Firdausza dan Nawang Wulandari.
MP: http://firdausza.multiply.com

17. Dan insha Allah nanti ada 99Puisi yang terpilih akan dibukukan, dalam Antologi Puisi "Rinai Rindu Untuk Muhammad Kekasih-Mu"

Demikian pemberitahuan lomba puisi ini kami sampaikan, semoga terjalin kerjasama yang baik di antara penyelenggara, panitia dan peserta, serta pihak-pihak lainnya yang terlibat dalam lomba puisi ini. Dan semoga kelak kita semua mendapat uluran syafaat dari beliau Nabi Muhammad SAW. Aamiin Ya Rabbal alamin.

Setiap ketekunan menulis pasti memiliki fase perkembangannya sendiri, berkayalah meski hanya lewat aksara, biarlah semua mendengar apa yang terpendam dalam setiap matamu terpancar. Karena semua objek yang kita lalui, teramat sayang untuk tidak diaksarakan.


Petak hati yang mulai tanamkan berjuta kerinduan
Tertiup lirih pada desir tubuh ilalang
Di ziarah senja kami maraup bidang doa di julur jemari
Di tandan harap atas tebar usap purnamamu yaa Rasul
Hingga sejuk damai di isak tangis ini, akan melandai bersama balutan syafaatmu


Jazakumullah khairan katsiran


Penyelenggara
~ Elaine Firdausza & Nawang Wulandari ~



Mengaksaralah!. Hingga baris ilmu akan teralir dari basah tinta dan runcing penamu, dan sejarah tak kan menyesal mencatat namamu.

 Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

#Untuk mempermudah akses komunikasi antara peserta dan panitia.
Peserta diharapkan bergabung dengan group facebook "Rinai Rindu Untuk Muhammad Kekasih-Mu".
(http://www.facebook.com/groups/168824443223292/)  Terima kasih.

Minggu, 04 Desember 2011

belum selesai


Senja merona pelan. Mentari tinggal separuh ditenggelamkan samudra. Dan aku masih duduk disini, menatap cahaya jingga yang dipermainkan ombak. Meliuk-liuk jariku, menggores tepian pantai. Mencoba menggambar sketsa wajahmu.
            “Nadya…”
            Tiba-tiba suara khasmu membuyarkan konsentrasiku.
            “ayah…” . aku melongok tak percaya.
            “ayah, kau kah itu?”
            “kemarilah nak” dan aku menghambur kepelukanmu. Menangis sejadi-jadinya menumpahkan rindu yang terperih.
            “setiap hari aku menanti ayah disini, aku sudah kehilangan ibu, aku takut ayah juga akan…”
            “ssst, jangan dilanjutkan nak, ayo ayah lelah sekali.”

Sabtu, 29 Oktober 2011

Sesuatu itu.....

oleh:  Imam Apriansyah


tak terasa, sebentar lagi tugas ini akan aku dan teman-temanku selesaikan. tinggal beberapa tugas laporan yang mesti dirampungkan segera. banyak sekali hal yang aku dapatkan, terkhusus adalah sebuah pengalaman yang sungguh sangat berbekas dikalbu. memang seringkali halangan dan rintangan kerap menerjang langkah-langkah polos kami, baik itu datangnya dari guru-guru yang kami tumpangi sekolahnya, maupun beberapa siswa yang mungkin sedikit mengalami syndrom keremajaan mereka.
lelah selalu jadi alasan untuk mengeluh dalam tiap doa dan sholat kami, seakan tugas ini tak akan mampu kami selesaikan. yah, ada saja masalah yang dibuat orang untuk memburukkan citra kami sebagai orang yang merasa menumpang mencari ilmu disana.
salah satunya adalah beberapa oknum yang sulit sekali ditebak apa maunya, saat aku dan teman-temanku senyum eh tak sedikit pun balasan senyum hadir dibibirnya. namun serba salah juga, tidak senyum dikatakan sombong dengan segala pencarian kesalahan dan aib lainnya.
aku sempat berkata dengan salah seorang temanku "jujur aku lelah....".
ia pun menguatkan aku, "biarlah saat ini kita memang sering diremehkan, tapi belum tentu nasib mereka akan lebih baik dari kita, roda itu berputar. barangkali saat ini mereka berada diatas, belum tentu esok akan selalu berada disana".

sepertinya aku akan beranjak dari cerita itu, yah murid-murid yang membuatku selalu merasa berharga. tak semuanya,tapi itu cukup membuatku bangga. dizaman edan seperti ini masih ada murid sesopan mereka, "assalamualaikum pak". senyum dan sapa mereka, tak mampu kuhapus dari memoriku, akan kuingat selalu. semoga kelak dapat bertemu lagi, entah itu dimana.

BERSAMBUNG.....

Sabtu, 15 Oktober 2011

KETIKA KAU RAMU KEMARAHANMU


 KETIKA KAU RAMU KEMARAHANMU

Imam Apriansyah


perih perjalanan ini,mengusik hijau rerumputan yang kutanam dipinggir rasaku.
membakar filsafat roda waktu
terkadang menjelma sebagi sesosok boneka tak berdaya
yang hanya mampu mengalah pada sumpah serapah.

aku mencoba menggalah rasa marahmu kepada ratusan kalimat yang kulipat didahi
menahan malu karena umpatanmu bak rindu badai pada pantai yang rapuh

aku tak mengerti arti setiap celotehan menyakitkan yang keluar dari pabrik-pabrik aksaramu
setiap saat menyemburkan asap hitam yang menyesakkan dada perjalanan.

mengapa hanya aku yang kau rindui tuk meluapkan benci dikepalamu

petuah-petuahmu,
ah hanya ratusan rasa memabukkan yang menelan senyumku.
terlalu pahit tuk dimakan sebagai sebuah pemahaman.

aku ingin pergi saja dari larut kecemasan dan kebengisan
sekedar untuk menerjemahkan cuaca  laut yang memberi sinyal kemurkaan.

PPL



Rabu, 12 Oktober 2011

Purnama Dimatamu, Ayah




Imam Apriansyah

Kutulis puisi kesedihan
Agar kau mampu membaca harum tubuhku dengan air mata.

Hari dan bulan berlalu diwajahmu namun tak mampu kau hentikan
Hanya sekedar permainan waktu yang kau biarkan berlalu.

Aku sering merindumu, sebagai purnama yang tak pernah tahu kapan kan kugenggam
Separuh cahayaku redup, tak mengerti kemana kan kucari lampu seindah rembulan.

Pada sepi dan halusinasi, pada mimpi yang kadang tak pasti
Kurebahkan rindu ini. Rindu yang mustahil dapat kuisi sebagai panganan dalam kaleng-kaleng lebaran. Atau lagu nina bobo yang kerap kudengar dari jendela dirumah tetangga.


Dalam doa yang siang malam aku panjatkan:
Akankah engkau menyeka air mata rindu yang kadang tak mampu kulabuhkan.

Selalu saja rindu itu memudar sebagai seberkas cahaya purnama yang diliputi awan
Memancar sebagai percikan hujan dimataku.

Ayah…
Gedung-gedung megah itu menutupi hatimu
yang hendak menyembunyikan purnama dimatamu.
Meranggas sebagian sejarahku dalam aliran darah yang kau pancarkan dalam rahim ibu.
Yang kini terdampar dihempas perihnya debu-debu jalanan.

Pada hujan senja itu
Engkau lempar tanggung jawab pada nisan ibu yang membisu.
Barangkali engkau malu.
Darah birumu terlalu kental, untuk menjaga mental kenyataan bahwa sejarah Tuhan menyatatku sebagai darah dagingmu.

Seumpama aku hanya kotoran
Yang membikin baju kebesaranmu jadi berdebu.
Aku ingin jadi tanah saja, selamanya dikubur dari purnama.

Aku memang bukan bima atau sadewa
Yang mampu bertarung merenggut tahta raja
aku hanya jutaan tetes air mata yang merindu purnama dimatamu, ayah.

*Puisi ini masuk dalam antologi puisi adalah hidupku.

Pagaralam,22 september 2011 17:09 wib.
 
 

Sabtu, 01 Oktober 2011

Menghadapi PPL


Menghadapi PPL

Pernahkah dirimu mengalami ketakutan yang luar biasa saat pertama kali kamu akan menghadapi tugas PPL?. Berarti kamu sama sepertiku, saat ini satu hari menjelang dilaksanakannya tugas PPL. Hati dan pikiranku begitu ketakutan dibuatnya, betapa tidak dengan berbagai wejangan yang disampaikan dosen pembimbing kemarin membuatku semakin bertambah takut untuk menghadapinya senin nanti. Selama dua bulan kami akan digodok sebagai calon guru professional. Menghadapi anak-anak SD atau SMP barangkali suatu hal yang biasa buatku, karena murid murid di bimbel yang aku rintis rata-rata adalah siswa yang masih duduk di SD atau SMP. Tetapi yang semakin membuat pikiranku gelisah adalah aku nanti harus berhadapan dengan siswa SMK yang materi dan siswanya barangkali sangat kritis dan sulit.
            Ya Allah bimbing hambamu yang serba lemah ini…..
Pagaralam 1 oktober 2011

Selasa, 27 September 2011

Sebuah Semangat Menggores Pena


Sebuah Semangat Menggores Pena
(Oleh Imam apriansyah)

24desember 2010, cuaca senja  berhias rintik gerimis. Pelangi membentang merona diufuk timur kota pagaralam. Gunung denpo nampak tertunduk sendu diselimuti awan. Saya mencari rintik-rintik imajinasi dibawah langit pagaralam yang jingga menawan. Rindu menggores  baris-baris puisi atau fiksi. Pelipur lara dikala hidup tak lagi memberi arti.
Saya petik lembaran buku-buku usang ditaman aksara. Mochtar lubis mengajarkan saya semangat menulis dan segudang karya kreatifnya .Lewat cerpen si jamal(1950) dan perempuan(1956). seorang sahabat membisikan kata-kata penyemangat. Jadi penulis harus baca buah karya para penggores pena seperti piepit senja, asma nadia, fahri asiza,gola gong, dan helvy tiana rosa.
Kau juga mestu menjelajah ukiran sajak chairil anwar, karya sastra asrul sani idrus hamka, sedertan karya yang tak habis dimakan masa.
Dalam segala kenangan yang mengendap dalam memori saya,menjadi penulis telah saya impikan sejak usia yang sedang merajut remaja, kala segalanya indah bertabur cinta anak belia.Diary Jadi saksi bisu.sastra telah merubah paradigma hidup saya. Menjadi hidup yang lebih ada dari sekedar ketiadaan.
Pengetahuan saya tentang segala dunia goresan pena dan sederet apreasi saya terhadapnya semakin bertambah saat saya mulai beranjak dibangku SMA. Bertambahnya volume motivasi yang membahana dalam imajinasi saya saat cuaca kota telah beranjak dewasa.
Berdiri tegap menyongsong arus globalisasi yang mulai merambati kota yang baru berdiri ini. Meski suasana sastra dan dunia kepenulisan masih awam dimata masyarakatnya. Jikadibandingkan dengan  kota jogja atau sebuah kota yang dijuluki paris van java, tentu sangat jauh perbedaannya. Namun minat baca masyarakatnya boleh dikatakan cukup tinggi.hal ini menjadi titik awal mengapa saya begitu tergugah untuk terjun  menekuni dunia pena. Saya berharap dengan memprokalmirkan diri saya kedunia pena, akan ada beberapa industri dunia buku yang akan bertandang kekota yang haus akan bacaan yang bermanfaat ini.
            Seklaipun perkenalan saya dengan dunia dunia pena terbatas dengan selembar alasan. Berupa fasilitas yang sedikit sekaldan tentu tak mencukupi. Namun sebuah majalh sastra telah menghidupkan lentera semangatku untuk terus menapakinya.
            Para penyair Indonesia seperti H.B jasssin, taufik ismail, dan jamal D Rahman yang memberikan  kesan mendalam bagi saya. Dan saya mulai menikmati dunia pena yang saya tapaki. Mulai percaya diri mengikuti berbagai kompetisi menulis yang boleh dikataka pesertanya lebih dulu memsuki dunia yang bagiku masih baru ini. Beberapa karya saya sempat diterbitkan, mseki sebelumnya mendapat berbagai penolakkan. Namun hal itu malah menambah semangat saya semakin membahana.
Asrul sani pernah mengatakan  bahwa seseorang pengarang dunia paling banyak menemukan diri dan bakatnya sebagai seorang pengarang adalah ketika mereka berada  disekolah menengah. Saya merasa  pena ini telah menggores karya  sejak masa SMP. Hal ini membantu saya untuk terus berkarya meski masa penekunana itu baru muncul  ketika berda dalam suasana kampus.
Saya selau berusaha berkaca pada penulis-penulis senior dengan selalu belajar dan membaca kary-karya phenomenal mereka. Agar pena saya semakin tajam dam menembus cakrawala satra lebih dalam.
 Saya berharap langit jingga yang menyelimuti kota pagaralam diujung senja ini akan berubah bintang bertaburan karya karya anak-anak yang lahir ditanah yang berada diakai gunung dempo yang indah.
                                    Pagaralam , pria penyimpan air mata  27 april 2011.
21:00 wib


Pantai Kenangan( Bersama Bunda)


Pantai Kenangan( Bersama Bunda)
Oleh Imam Apriansyah

Serpihan badai mencengkram erat puing-puing kelemahanku
Gerimis abadi pun ikut meramaikan  aroma pantai yang kelabu
Membasahi tepian bahterah yang rusak diterpa parang gelombang

Diberanda masih berwarna duka
Dalam hiruk pikuk perkabungan yang tajam menerkam tiap sudut kenangan
Karang-karang membisu
Dihempas puing-puing buih keruh
Langit pagi berkabut
Hitam kelabu terpendar dipermainkan badai gemuruh

Diruang usang berjelaga dengan lantai kelabu
Kerlipan senyummu merapuh membeku
Air mata jadi doa pengiring tubuhmu yang membisu
Membujur diranjang yang panjang berhias keranda kayu

Ratusan kalimat cinta tergores dilautan hatimu
Yang setiap senja tiba kau ukir bersama layar-layar bahterah yang bersandar didermaga
Kini  terhapus tiap baitnya
Dijilati ombak perkabungan yang meremukkan asa
Dan diri ini kian rapuh
Terkapar dihempas gelombang kesedihan

Bunda…
Merajam sudah bau busuk cuaca
Kucari celah tuk dapat menghapus tiap jengkal duka
Namun tubuh ini seolah tak bernyawa
Tenggelam dalam hamparan panorama kuncup kamboja

Sulit nian kan kurengkuh lagi hangat kasihmu
Terpasung sisa bau karangan bunga ditanah merah yang abadi
Terkubur asaku yang mendamba menghabiskan sisa senja dipantai biru
Kala tubuhmu masih mampu menjadi tempatku mengadu dahulu

Bunda …
Laut seperti memantulkan sepasang kesedihan
Dan aku masih duduk disini, dipasir pantai kenangan
Menggores-gores bibir pantai kala senja tiba
Agar tak lagi merajam sukmaku yang sunyi tanpamu

Pagaralam, pria penyimpan air mata, 07.05.2011. 12.15 wib Nama      


Kala Kalbu Meramu Rindu


Kala Kalbu Meramu Rindu
(Oleh Imam Apriansyah)

Ketika bulan memajang rindunya pada ramadhan
Malaikat-malaikat bersayap putih menggetarkan telungkup rindu
Runtuhkan  kesunyian denting malam
Aroma air mata keimanan terbentang,  menghias takbir dan salam ditepian kalbu,
tentram.

Sujud syukur kesyahduhan menggema dipenjuru alam
Merangkul hektaran rindu bulan bercahaya kemenangan
Indah damai, amal pahala dilipatgandakan
Rahmat dan ampunan tercurah dirisau keresahan, menjelma merona pintu surga dibentangkan.

Riuh tetabuhan bunyi dentang genderang sahur
Ramaikan sebongkah rindu tanpa sayap
Kendalikan nafsu diri dipepat kalbu, menggores keutamaan ditiap geliat waktu.
Penuh gairah ganjaran
Segala kebaikan meramu haluan, mencipta cahaya menyinari jalan menghapus goresan kelam.

Duhai bulan bersayap rahmat
Duhai bulan bertahta mulia dicipta,
Ramadhan bermahkota mulia namanya,
Yang Tuhan datangkan kembali mewarnai hidupku, malu aku yang tak mampu mensyukuri nikmat RamadhanMu dahulu
Takabur kufur mencandui jiwaku
Merasa sempurna bersayap patah, membantai segala perintahMu
Menjalari keangkuhanku
Harapan yang kadang menjelma keharusan
Kupinta dengan paksa seolah ku paling tahu kebenaran dan
Ketika tak Kau kabulkan
Jiwa merasa tak pernah nikmat diberikan

Ya Rabb Dalam segala lemah imanku
Doaku mendekap segala keluh kesah keresahan batinku,yang berdosa karna tergoda cakrawala nafsu
Izinkan aku mengetuk guratan cahaya RamadhanMu
Izinkan aku bersua rindu ditiap sujud ibadahku

Demi bulan yang kau muliakan ampuni hina kerapuhanku.

Pagaralam , 6 juli 2011.

*puisi ini masuk dalam antologi puisi mengukir cahaya ramadhan