Selasa, 27 September 2011

Sebuah Semangat Menggores Pena


Sebuah Semangat Menggores Pena
(Oleh Imam apriansyah)

24desember 2010, cuaca senja  berhias rintik gerimis. Pelangi membentang merona diufuk timur kota pagaralam. Gunung denpo nampak tertunduk sendu diselimuti awan. Saya mencari rintik-rintik imajinasi dibawah langit pagaralam yang jingga menawan. Rindu menggores  baris-baris puisi atau fiksi. Pelipur lara dikala hidup tak lagi memberi arti.
Saya petik lembaran buku-buku usang ditaman aksara. Mochtar lubis mengajarkan saya semangat menulis dan segudang karya kreatifnya .Lewat cerpen si jamal(1950) dan perempuan(1956). seorang sahabat membisikan kata-kata penyemangat. Jadi penulis harus baca buah karya para penggores pena seperti piepit senja, asma nadia, fahri asiza,gola gong, dan helvy tiana rosa.
Kau juga mestu menjelajah ukiran sajak chairil anwar, karya sastra asrul sani idrus hamka, sedertan karya yang tak habis dimakan masa.
Dalam segala kenangan yang mengendap dalam memori saya,menjadi penulis telah saya impikan sejak usia yang sedang merajut remaja, kala segalanya indah bertabur cinta anak belia.Diary Jadi saksi bisu.sastra telah merubah paradigma hidup saya. Menjadi hidup yang lebih ada dari sekedar ketiadaan.
Pengetahuan saya tentang segala dunia goresan pena dan sederet apreasi saya terhadapnya semakin bertambah saat saya mulai beranjak dibangku SMA. Bertambahnya volume motivasi yang membahana dalam imajinasi saya saat cuaca kota telah beranjak dewasa.
Berdiri tegap menyongsong arus globalisasi yang mulai merambati kota yang baru berdiri ini. Meski suasana sastra dan dunia kepenulisan masih awam dimata masyarakatnya. Jikadibandingkan dengan  kota jogja atau sebuah kota yang dijuluki paris van java, tentu sangat jauh perbedaannya. Namun minat baca masyarakatnya boleh dikatakan cukup tinggi.hal ini menjadi titik awal mengapa saya begitu tergugah untuk terjun  menekuni dunia pena. Saya berharap dengan memprokalmirkan diri saya kedunia pena, akan ada beberapa industri dunia buku yang akan bertandang kekota yang haus akan bacaan yang bermanfaat ini.
            Seklaipun perkenalan saya dengan dunia dunia pena terbatas dengan selembar alasan. Berupa fasilitas yang sedikit sekaldan tentu tak mencukupi. Namun sebuah majalh sastra telah menghidupkan lentera semangatku untuk terus menapakinya.
            Para penyair Indonesia seperti H.B jasssin, taufik ismail, dan jamal D Rahman yang memberikan  kesan mendalam bagi saya. Dan saya mulai menikmati dunia pena yang saya tapaki. Mulai percaya diri mengikuti berbagai kompetisi menulis yang boleh dikataka pesertanya lebih dulu memsuki dunia yang bagiku masih baru ini. Beberapa karya saya sempat diterbitkan, mseki sebelumnya mendapat berbagai penolakkan. Namun hal itu malah menambah semangat saya semakin membahana.
Asrul sani pernah mengatakan  bahwa seseorang pengarang dunia paling banyak menemukan diri dan bakatnya sebagai seorang pengarang adalah ketika mereka berada  disekolah menengah. Saya merasa  pena ini telah menggores karya  sejak masa SMP. Hal ini membantu saya untuk terus berkarya meski masa penekunana itu baru muncul  ketika berda dalam suasana kampus.
Saya selau berusaha berkaca pada penulis-penulis senior dengan selalu belajar dan membaca kary-karya phenomenal mereka. Agar pena saya semakin tajam dam menembus cakrawala satra lebih dalam.
 Saya berharap langit jingga yang menyelimuti kota pagaralam diujung senja ini akan berubah bintang bertaburan karya karya anak-anak yang lahir ditanah yang berada diakai gunung dempo yang indah.
                                    Pagaralam , pria penyimpan air mata  27 april 2011.
21:00 wib


Tidak ada komentar:

Posting Komentar