Sebuah Semangat Menggores Pena
(Oleh Imam apriansyah)
24desember 2010, cuaca senja berhias rintik gerimis. Pelangi membentang
merona diufuk timur kota
pagaralam. Gunung denpo nampak tertunduk sendu diselimuti awan. Saya mencari
rintik-rintik imajinasi dibawah langit pagaralam yang jingga menawan. Rindu
menggores baris-baris puisi atau fiksi.
Pelipur lara dikala hidup tak lagi memberi arti.
Saya petik lembaran buku-buku usang
ditaman aksara. Mochtar lubis mengajarkan saya semangat menulis dan segudang
karya kreatifnya .Lewat cerpen si jamal(1950) dan perempuan(1956). seorang
sahabat membisikan kata-kata penyemangat. Jadi penulis harus baca buah karya
para penggores pena seperti piepit senja, asma nadia, fahri asiza,gola gong,
dan helvy tiana rosa.
Kau juga mestu menjelajah ukiran
sajak chairil anwar, karya sastra asrul sani idrus hamka, sedertan karya yang
tak habis dimakan masa.
Dalam segala kenangan yang mengendap dalam memori saya,menjadi
penulis telah saya impikan sejak usia yang sedang merajut remaja, kala
segalanya indah bertabur cinta anak belia.Diary Jadi saksi bisu.sastra telah
merubah paradigma hidup saya. Menjadi hidup yang lebih ada dari sekedar
ketiadaan.
Pengetahuan saya tentang segala
dunia goresan pena dan sederet apreasi saya terhadapnya semakin bertambah saat
saya mulai beranjak dibangku SMA. Bertambahnya volume motivasi yang membahana
dalam imajinasi saya saat cuaca kota
telah beranjak dewasa.
Berdiri tegap menyongsong arus
globalisasi yang mulai merambati kota
yang baru berdiri ini. Meski suasana sastra dan dunia kepenulisan masih awam
dimata masyarakatnya. Jikadibandingkan dengan
kota jogja atau sebuah kota
yang dijuluki paris
van java, tentu sangat jauh perbedaannya. Namun minat baca masyarakatnya boleh
dikatakan cukup tinggi.hal ini menjadi titik awal mengapa saya begitu tergugah
untuk terjun menekuni dunia pena. Saya
berharap dengan memprokalmirkan diri saya kedunia pena, akan ada beberapa
industri dunia buku yang akan bertandang kekota yang haus akan bacaan yang
bermanfaat ini.
Seklaipun
perkenalan saya dengan dunia dunia pena terbatas dengan selembar alasan. Berupa
fasilitas yang sedikit sekaldan tentu tak mencukupi. Namun sebuah majalh sastra
telah menghidupkan lentera semangatku untuk terus menapakinya.
Para
penyair Indonesia
seperti H.B jasssin, taufik ismail, dan jamal D Rahman yang memberikan kesan mendalam bagi saya. Dan saya mulai menikmati
dunia pena yang saya tapaki. Mulai percaya diri mengikuti berbagai kompetisi
menulis yang boleh dikataka pesertanya lebih dulu memsuki dunia yang bagiku
masih baru ini. Beberapa karya saya sempat diterbitkan, mseki sebelumnya
mendapat berbagai penolakkan. Namun hal itu malah menambah semangat saya
semakin membahana.
Asrul sani pernah mengatakan bahwa seseorang pengarang dunia paling banyak
menemukan diri dan bakatnya sebagai seorang pengarang adalah ketika mereka
berada disekolah menengah. Saya
merasa pena ini telah menggores
karya sejak masa SMP. Hal ini membantu
saya untuk terus berkarya meski masa penekunana itu baru muncul ketika berda dalam suasana kampus.
Saya selau berusaha berkaca pada
penulis-penulis senior dengan selalu belajar dan membaca kary-karya phenomenal
mereka. Agar pena saya semakin tajam dam menembus cakrawala satra lebih dalam.
Saya berharap langit jingga yang menyelimuti kota pagaralam diujung
senja ini akan berubah bintang bertaburan karya karya anak-anak yang lahir
ditanah yang berada diakai gunung dempo yang indah.
Pagaralam
, pria penyimpan air mata 27 april 2011.
21:00 wib
Tidak ada komentar:
Posting Komentar