Selasa, 27 September 2011

Aku Hanyalah Rumput, Ayah

Aku Hanyalah Rumput, Ayah


Imam Apriansyah

Bertahun-tahun aku menanti semerbak bunga kopi mekar dihatimu
Pelan-pelan dedaunan runtuh mengemas riwayat ditanah.
Dipersimpangan kebun itu parangmu pernah hendak kau tebaskan
Pada rumput liar yang mengusik pertumbuhanmu
Namun lagi-lagi pohon kopi melebat buahnya, semerbak parangmu kehilangan arah.

Aku pernah bermimpi, suatu hari bisa menjelma sebagai bunga kopi atau pohon buah-buahan
Agar aku dapat mencabuti semak-semak yang menenggelamkan kepalamu.
Nyatanya bagimu aku hanya secercah rumput liar yang tak layak untuk dikenang
Sebab dimatamu tak mampu dipanen buat masa depan

Sementara anak-anakmu yang lain terus tumbuh sebagai pohon kopi yang melebat buahnya
Meski telah berpayah, aku tetaplah rumput yang tak mahir menyair
Ditepian kebunmu membentuk taman yang begitu asing bagimu.
Ah itulah sebab parangmu seperti hendak memangkasku
Kau pinjam dedaunan kering yang meruntuh
Untuk membakar sejarah rumput yang kerap mengusik bincang mesramu pada buah atau bunga kopi.

Pagaralam, 13 agustus 2011. 16.12 Wib.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar