Diary Depresi (sebuah fiksi)
oleh Imam Apriansyah pada 02 September 2011 jam 20:14
Diary Depresi
Entah dari mana kan kumulai kisah ini-kisah yang kata sebagian orang adalah sebuah cerpen dramatis, mellow dan berisi hal-hal cengeng. Tetapi mereka terlalu kolot memahami arti sebuah diary. Ya, kisah ini nyata selarik diary yang kutulis sendiri. Aku pasih menyebutnya diary-diary depresi. Pas sekali dengan sebuah lagu yang terlanjur kusukai, hampir sama persis dengan semua perjalanan hidup yang kulalui.
Aku berdiri didepan cermin, menengok kebelakang dengan kaca masa depan. Mencoba membacakan diary-diary perih ini. Dan air mata, penghias ditiap bibir melantunkan butir-butir aksara didalamnya.
Ku terlahir dengan sambutan dingin.24 november 1990, hari yang sangat bersejarah bagiku, hari ketika aku dapat menghirup kejamnya aroma dunia, menjadi seorang bayi yang mengalami nasib yang tak mengenakkan. Sangat tak adil bagiku, ketika kasih sayang seorang ayah yang kurindu ternyata hanya sebuah dongengan malaikat ketika kutumbuh didalam rahim ibu. Hanya satu hal yang memang malaikat tak berbohong padaku adalah seorang perempuan tua yang rela mati demi aku, ia sangat lembut dan penuh kasih sayang, tak pernah sedikit pun mengeluh mengurusku. Merawatku tanpa peduli tubuhnya yang sudah mulai rapuh.
Ia membesarkanku. Beranjakku pada masa kanak-kanak, ketika malaikat lari menjauhiku, aku sudah terlalu besar untuk selalu dipeluk sayap-sayap lembutnya. Hanya ibu dan dzat yang kukenal bernama Tuhan yang selalu menguatkannku, ibu selalu mengenalkanku kepadaNya, lewat sholat dan mengaji ditiap lima waktu. Aku jadi damai saat bersamaNya lewat keluh munajatku, aku pun lama-lama jatuh cinta padaNya.
Ketika masalah melanda, ku selalu berdoa kepadaNya. Apalagi ketika ayah memukul dan menghajarku saat sebuah kesalahan sekecil dzarah kuperbuat, atau ketika aku menyebutnya ayah, ia marah seketika dan menyebutku “anak haram” sambil kepalaku dibentur-benturkannya ketembok. Darah bercucuran mengalir deras sederas tangisan yang menetes dipipi mungilku.
Aku anak ketujuh dari delapan bersaudara, namun diantara ketujuh saudaraku Cuma aku yang sangat dibenci ayah dan Cuma aku pula yang sangat disayang ibu. Dua sisi yang membikin galau dihatiku, sebuah dilema berkepanjangan yang sering mengusik relung keyakinanku akan doa yang selalu kupanjatkan pada Tuhan yang kusembah. Aku jadi sering marah-marah padaNya bahkan sempat bosan berdoa padaNya.
Diusia remaja, saat masa labil melanda, saat rasa ingin tahu begitu membuncah, disaat jiwa membrontak mendambakan jati diri. Aku sempat mengenal ia, tuhan yang sebenarnya adalah berhala. Damai yang semu membuaiku lama. Aku lari dari rumah, mendapat kasih yang sebenarnya adalah neraka. Terlarut aku dalam dunia kelam bernama keyakinan sesat. Terlalu menggiurkan, ketika yang ditawarkan adalah cinta kasih orangtua yang sempurna, namun sebenarnya tak tulus, ia menginginkanku jadi boneka untuk menyebarkan missi sesatnya.
Aku mulai merasa gundah, hidup bahagia namun jiwa kosong. Beda saat aku dahulu sering sujud kepada Tuhan yang ibuku kenalkan dahulu. Aku pun kembali dituntun mengenalNya oleh beberapa orang yang kusebut sahabat.
******
Aku begitu lemah; iman, keterampilan bahkan untuk bersosialisasi pun sangat susah. Tak jarang kudisebut kuper, autis, dan segala sesuatu yang berkonotasi buruk kerap dilekatkan sebagai sebutan yang pantas untukku.
Aku jadi iri pada anak-anak sebayaku yang bebas berekspresi, lincah berprestasi. Aku hanya diam, sekolah, pulang, dimarah –marah. Hanya imajinasi yang kutorehkan lewat kata, lewat diary, lewat puisi-puisi. Sebagai pelampiasan kekesalanku dalam mengarungi perih yang ayah goreskan,
Kaca-kaca itu retak. Hingga kini tak kunjung penganiayaan itu berhenti. Aku mencoba bekerja sebagai kuli bangunan atau membantu disawah. Yang ada aku tak betah karena selalu saja salah dan dimarah-marah. membuka les, mengajar diTPA, nihil semuanya dibakar oleh ayah. Aku putus asa.
Mencari bantuan kepada beberapa orang yang kusebut ustadz atau yang mengerti agama. mencari kerja disekolah-sekolah muslim, hasilnya bantuan setengah hati. Bahkan ada satu orang yang membenciku bersikap tidak profesional, dengan menjatuhkan nilai tesku. Kecewa, sangat kecewa karena mereka semua adalah sosok yang kukagumi.
Lari aku lari menyusuri malam ketika ayah kumat ingin mengusirku, aku berteduh dibawah naungan masjid, bercerita pada imam masjid atau orang yang ahli didalammnya, tak ada yang peduli, semuanya sibuk pada urusan pribadi, orang miskin sepertiku tak pantas dihiraukan barangkali. Merintihku dikegelapan malam diemper toko saat hujan mengguyur, tak bisa tidur karena nyamuk yang begitu jahatnya menari-nari ditengah kepedihan yang kualami.
Bersambung.
(cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan toko dan tempat kejadian hal itu hanya kebetulan belaka)
Pagaralam 2011.
Entah dari mana kan kumulai kisah ini-kisah yang kata sebagian orang adalah sebuah cerpen dramatis, mellow dan berisi hal-hal cengeng. Tetapi mereka terlalu kolot memahami arti sebuah diary. Ya, kisah ini nyata selarik diary yang kutulis sendiri. Aku pasih menyebutnya diary-diary depresi. Pas sekali dengan sebuah lagu yang terlanjur kusukai, hampir sama persis dengan semua perjalanan hidup yang kulalui.
Aku berdiri didepan cermin, menengok kebelakang dengan kaca masa depan. Mencoba membacakan diary-diary perih ini. Dan air mata, penghias ditiap bibir melantunkan butir-butir aksara didalamnya.
Ku terlahir dengan sambutan dingin.24 november 1990, hari yang sangat bersejarah bagiku, hari ketika aku dapat menghirup kejamnya aroma dunia, menjadi seorang bayi yang mengalami nasib yang tak mengenakkan. Sangat tak adil bagiku, ketika kasih sayang seorang ayah yang kurindu ternyata hanya sebuah dongengan malaikat ketika kutumbuh didalam rahim ibu. Hanya satu hal yang memang malaikat tak berbohong padaku adalah seorang perempuan tua yang rela mati demi aku, ia sangat lembut dan penuh kasih sayang, tak pernah sedikit pun mengeluh mengurusku. Merawatku tanpa peduli tubuhnya yang sudah mulai rapuh.
Ia membesarkanku. Beranjakku pada masa kanak-kanak, ketika malaikat lari menjauhiku, aku sudah terlalu besar untuk selalu dipeluk sayap-sayap lembutnya. Hanya ibu dan dzat yang kukenal bernama Tuhan yang selalu menguatkannku, ibu selalu mengenalkanku kepadaNya, lewat sholat dan mengaji ditiap lima waktu. Aku jadi damai saat bersamaNya lewat keluh munajatku, aku pun lama-lama jatuh cinta padaNya.
Ketika masalah melanda, ku selalu berdoa kepadaNya. Apalagi ketika ayah memukul dan menghajarku saat sebuah kesalahan sekecil dzarah kuperbuat, atau ketika aku menyebutnya ayah, ia marah seketika dan menyebutku “anak haram” sambil kepalaku dibentur-benturkannya ketembok. Darah bercucuran mengalir deras sederas tangisan yang menetes dipipi mungilku.
Aku anak ketujuh dari delapan bersaudara, namun diantara ketujuh saudaraku Cuma aku yang sangat dibenci ayah dan Cuma aku pula yang sangat disayang ibu. Dua sisi yang membikin galau dihatiku, sebuah dilema berkepanjangan yang sering mengusik relung keyakinanku akan doa yang selalu kupanjatkan pada Tuhan yang kusembah. Aku jadi sering marah-marah padaNya bahkan sempat bosan berdoa padaNya.
Diusia remaja, saat masa labil melanda, saat rasa ingin tahu begitu membuncah, disaat jiwa membrontak mendambakan jati diri. Aku sempat mengenal ia, tuhan yang sebenarnya adalah berhala. Damai yang semu membuaiku lama. Aku lari dari rumah, mendapat kasih yang sebenarnya adalah neraka. Terlarut aku dalam dunia kelam bernama keyakinan sesat. Terlalu menggiurkan, ketika yang ditawarkan adalah cinta kasih orangtua yang sempurna, namun sebenarnya tak tulus, ia menginginkanku jadi boneka untuk menyebarkan missi sesatnya.
Aku mulai merasa gundah, hidup bahagia namun jiwa kosong. Beda saat aku dahulu sering sujud kepada Tuhan yang ibuku kenalkan dahulu. Aku pun kembali dituntun mengenalNya oleh beberapa orang yang kusebut sahabat.
******
Aku begitu lemah; iman, keterampilan bahkan untuk bersosialisasi pun sangat susah. Tak jarang kudisebut kuper, autis, dan segala sesuatu yang berkonotasi buruk kerap dilekatkan sebagai sebutan yang pantas untukku.
Aku jadi iri pada anak-anak sebayaku yang bebas berekspresi, lincah berprestasi. Aku hanya diam, sekolah, pulang, dimarah –marah. Hanya imajinasi yang kutorehkan lewat kata, lewat diary, lewat puisi-puisi. Sebagai pelampiasan kekesalanku dalam mengarungi perih yang ayah goreskan,
Kaca-kaca itu retak. Hingga kini tak kunjung penganiayaan itu berhenti. Aku mencoba bekerja sebagai kuli bangunan atau membantu disawah. Yang ada aku tak betah karena selalu saja salah dan dimarah-marah. membuka les, mengajar diTPA, nihil semuanya dibakar oleh ayah. Aku putus asa.
Mencari bantuan kepada beberapa orang yang kusebut ustadz atau yang mengerti agama. mencari kerja disekolah-sekolah muslim, hasilnya bantuan setengah hati. Bahkan ada satu orang yang membenciku bersikap tidak profesional, dengan menjatuhkan nilai tesku. Kecewa, sangat kecewa karena mereka semua adalah sosok yang kukagumi.
Lari aku lari menyusuri malam ketika ayah kumat ingin mengusirku, aku berteduh dibawah naungan masjid, bercerita pada imam masjid atau orang yang ahli didalammnya, tak ada yang peduli, semuanya sibuk pada urusan pribadi, orang miskin sepertiku tak pantas dihiraukan barangkali. Merintihku dikegelapan malam diemper toko saat hujan mengguyur, tak bisa tidur karena nyamuk yang begitu jahatnya menari-nari ditengah kepedihan yang kualami.
Bersambung.
(cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan toko dan tempat kejadian hal itu hanya kebetulan belaka)
Pagaralam 2011.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar