Pantai Kenangan(
Bersama Bunda)
Oleh Imam Apriansyah
Serpihan badai mencengkram erat puing-puing kelemahanku
Gerimis abadi pun ikut meramaikan aroma pantai yang kelabu
Membasahi tepian bahterah yang rusak diterpa parang
gelombang
Diberanda masih berwarna duka
Dalam hiruk pikuk perkabungan yang tajam menerkam tiap sudut
kenangan
Karang-karang membisu
Dihempas puing-puing buih keruh
Langit pagi berkabut
Hitam kelabu terpendar dipermainkan badai gemuruh
Diruang usang berjelaga dengan lantai kelabu
Kerlipan senyummu merapuh membeku
Air mata jadi doa pengiring tubuhmu yang membisu
Membujur diranjang yang panjang berhias keranda kayu
Ratusan kalimat cinta tergores dilautan hatimu
Yang setiap senja tiba kau ukir bersama layar-layar bahterah
yang bersandar didermaga
Kini terhapus tiap
baitnya
Dijilati ombak perkabungan yang meremukkan asa
Dan diri ini kian rapuh
Terkapar dihempas gelombang kesedihan
Bunda…
Merajam sudah bau busuk cuaca
Kucari celah tuk dapat menghapus tiap jengkal duka
Namun tubuh ini seolah tak bernyawa
Tenggelam dalam hamparan panorama kuncup kamboja
Sulit nian kan
kurengkuh lagi hangat kasihmu
Terpasung sisa bau karangan bunga ditanah merah yang abadi
Terkubur asaku yang mendamba menghabiskan sisa senja
dipantai biru
Kala tubuhmu masih mampu menjadi tempatku mengadu dahulu
Bunda …
Laut seperti memantulkan sepasang kesedihan
Dan aku masih duduk disini, dipasir pantai kenangan
Menggores-gores bibir pantai kala senja tiba
Agar tak lagi merajam sukmaku yang sunyi tanpamu
Pagaralam, pria penyimpan air
mata, 07.05.2011. 12.15 wib Nama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar