Surat Kecil Untuk Ayah
*flash fiction*
(oleh Imam Apriansyah)
Sebuah kepingan
kehidupan yang mesti kujalani.
Pagi ini aku
sendiri, mengeja aksara yang terbata-bata kupahami. Sepucuk kertas usang yang
nampak telah lama sekali disimpan rapat dari pengetahuanku. Isinya ,mewakili
segala jati diriku.
Sekedar melepas lelah, aku duduk di
tepi dipersimpangan jalan sebuah kota.
Diterpa gerimis kecil yang senyata mengguyur tubuh dekilku. Bekalku telah
habis, hanya tersisa uang dua ribu rupiah dikantung celana. Padahal
perjalananku belum usai, meski telah mencapai kota
yang dituju, tetapi aku sampai tak menyadari kalau aku belum pernah menjamah kota ini.
Aku duduk termangu, menatap papan
hijau bertuliskan “kabupaten Cilacap” diseberang jalan.
` “pergi dari sini anak haram!!” bentak
ayah kepadaku. Semalaman aku tidur dikandang ayam sebagai hukuman atas
kecerobohanku. Dipukuli bahkan dihempaskan kepalaku kedinding reot itu. Aku
hanya diam saja, tak dapat melawan, hanya tangis bersimbah darah dikepala.
Mang sadi tetangga rumahku terenyuh
menatapku, ia menolongku dan membawaku kerumahnya, ibu kulihat hanya menjerit
menangis memohon-mohon kepada ayah, agar tak menghajarku lagi. Yang kurasakan
hanya mual, pening dan pandanganku buram, berganti gelap.
“pergilah nak, semoga kau temukan
ayahmu”
“ibu, aku akan kembali, aku janji”.
Kataku setelah kupahami rahasia yang terpendam selama ini. Akhirnya kumengerti
mengapa ayah sebegitu kejamnya kepadaku. Aku hanya anak pungut yang diambil
setelah ibu kandungku melahirkanku. Hanya surat
dan bongkahan nisan bertuliskan nama ibu kandungku yang ia wariskan “Ratna”.
Kubaca surat itu pelan
“Anakku
Ibu mungkin tak sempat memberimu hangat ais susu,
memberimu hangat pelukan seorang ibu, ibu terlalu pengecut untukmu nak, tetapi
ijinkan ibu bercerita tentang suatu kisah yang mesti kau tahu, ini menyangkut
statusmu kelak ketika kau telah dewasa. Berat rasanya tapi ibu tetap harus
bercerita.
Ibu
hanya anak seorang pembantu rumah tangga dikeluarga seorang pengusaha, orang
tua ibu telah meninggal dan ibu yang meneruskan menjadi babu dirumah itu, suatu
hari anak majikan ibu jatuh cinta pada ibu dan ibu menerimanya karena ibu juga
mencintainya,tetapi cinta kami tak direstui,ibu hamil nak dan ibu diusir dari
sana, ibu bingung, dan ibu lari kekota kecil ini, mengandungmu dengan susah
payah, tapi ibu tak sedikitpun punya niat menggugurkanmu, karena kau punya hak
untuk tetap hidup nak.
Satu
yang ibu pinta, cari ayahmu jika kau telah dewasa dan berikan surat ini kepadanya itu saja nak.
Salam hangat,
Ibumu yang tak berguna.”
****
Kulangkahkan kembali kakiku
menyusuri tepian jalan yang mulai ramai.
“ojek de” seru
seorang tukang ojek.
“nggak bang
trimakasih, Cuma mau Tanya alamat ini, tau nggak bang?”
“ oh rumah bapak
andi? Itu de’ rumah yang diseberang yang No.20”.
“ oh makasih ya
bang”
“ sama-sama
de’.”
Seorang pria paru baya sedang
bersenda gurau ditaman rumah dengan seorang wanita yang aku tak tahu siapa,
disampingnya anak perempuan seumurku, memeluknya manja. Aku hanya termangu
didepan gerbang rumah megah itu,
“pengemis ya?” pria itu melemparku
dengan selembar uang seribu rupiah dengan sombongnya. Sakit menyelusup hatiku
namun kucoba untuk tetap ramah dan bertanya;
“ bapak Andi hadiningrat ya?”
tanyaku gugup.
“iya anda siapa, maaf saya sedang
sibuk.”
Ingin menangis
dan memeluknya, pria itu ayahku, ayah kandungku, tetapi aku tersadar ia ta
mengenalku, bahkan mungkin taka kan
mau mengakuiku. Aku melempar surat
titipan ibu dan berlalu.”aku janji taka akan menemui ayah lagi”. Jeritku dalam
batin.
Kepingan
hidupku,
Pagaralam,
14 agustus 2011,09.45.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar