Selasa, 27 September 2011

Surat Kecil Untuk Ayah


Surat Kecil Untuk Ayah
*flash fiction*
(oleh Imam Apriansyah)

Sebuah kepingan kehidupan yang mesti kujalani.
Pagi ini aku sendiri, mengeja aksara yang terbata-bata kupahami. Sepucuk kertas usang yang nampak telah lama sekali disimpan rapat dari pengetahuanku. Isinya ,mewakili segala jati diriku.
            Sekedar melepas lelah, aku duduk di tepi dipersimpangan jalan sebuah kota. Diterpa gerimis kecil yang senyata mengguyur tubuh dekilku. Bekalku telah habis, hanya tersisa uang dua ribu rupiah dikantung celana. Padahal perjalananku belum usai, meski telah mencapai kota yang dituju, tetapi aku sampai tak menyadari kalau aku belum pernah menjamah kota ini.
            Aku duduk termangu, menatap papan hijau bertuliskan “kabupaten Cilacap” diseberang jalan.
`           “pergi dari sini anak haram!!” bentak ayah kepadaku. Semalaman aku tidur dikandang ayam sebagai hukuman atas kecerobohanku. Dipukuli bahkan dihempaskan kepalaku kedinding reot itu. Aku hanya diam saja, tak dapat melawan, hanya tangis bersimbah darah dikepala.
            Mang sadi tetangga rumahku terenyuh menatapku, ia menolongku dan membawaku kerumahnya, ibu kulihat hanya menjerit menangis memohon-mohon kepada ayah, agar tak menghajarku lagi. Yang kurasakan hanya mual, pening dan pandanganku buram, berganti gelap.
            “pergilah nak, semoga kau temukan ayahmu”
            “ibu, aku akan kembali, aku janji”. Kataku setelah kupahami rahasia yang terpendam selama ini. Akhirnya kumengerti mengapa ayah sebegitu kejamnya kepadaku. Aku hanya anak pungut yang diambil setelah ibu kandungku melahirkanku. Hanya surat dan bongkahan nisan bertuliskan nama ibu kandungku yang ia wariskan “Ratna”.
            Kubaca surat itu pelan
            Anakku
            Ibu  mungkin tak sempat memberimu hangat ais susu, memberimu hangat pelukan seorang ibu, ibu terlalu pengecut untukmu nak, tetapi ijinkan ibu bercerita tentang suatu kisah yang mesti kau tahu, ini menyangkut statusmu kelak ketika kau telah dewasa. Berat rasanya tapi ibu tetap harus bercerita.
            Ibu hanya anak seorang pembantu rumah tangga dikeluarga seorang pengusaha, orang tua ibu telah meninggal dan ibu yang meneruskan menjadi babu dirumah itu, suatu hari anak majikan ibu jatuh cinta pada ibu dan ibu menerimanya karena ibu juga mencintainya,tetapi cinta kami tak direstui,ibu hamil nak dan ibu diusir dari sana, ibu bingung, dan ibu lari kekota kecil ini, mengandungmu dengan susah payah, tapi ibu tak sedikitpun punya niat menggugurkanmu, karena kau punya hak untuk tetap hidup nak.
            Satu yang ibu pinta, cari ayahmu jika kau telah dewasa dan berikan surat ini kepadanya itu saja nak.
Salam hangat,
Ibumu yang tak berguna.”
****
            Kulangkahkan kembali kakiku menyusuri tepian jalan yang mulai ramai.
“ojek de” seru seorang tukang ojek.
“nggak bang trimakasih, Cuma mau Tanya alamat ini, tau nggak bang?”
“ oh rumah bapak andi? Itu de’ rumah yang diseberang yang No.20”.
“ oh makasih ya bang”
“ sama-sama de’.”

            Seorang pria paru baya sedang bersenda gurau ditaman rumah dengan seorang wanita yang aku tak tahu siapa, disampingnya anak perempuan seumurku, memeluknya manja. Aku hanya termangu didepan gerbang rumah megah itu,
            “pengemis ya?” pria itu melemparku dengan selembar uang seribu rupiah dengan sombongnya. Sakit menyelusup hatiku namun kucoba untuk tetap ramah dan bertanya;
            “ bapak Andi hadiningrat ya?” tanyaku gugup.
            “iya anda siapa, maaf saya sedang sibuk.”
Ingin menangis dan memeluknya, pria itu ayahku, ayah kandungku, tetapi aku tersadar ia ta mengenalku, bahkan mungkin taka kan mau mengakuiku. Aku melempar surat titipan ibu dan berlalu.”aku janji taka akan menemui ayah lagi”. Jeritku dalam batin.

                                                                        Kepingan hidupku,
                                                                        Pagaralam, 14 agustus 2011,09.45.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar