Senja di Beranda
Imam Apriansyah
Senja
diberanda. Sebuah rutinitasku menantimu pulang kerumah. Disini aku sering
merasa bahagia. Kebahagiaan yang tak mampu terucapkan oleh kata-kata. Kala
melihatmu membuka pintu pagar rumah kita. seketika jantungku berdegup
kencang,serasa pertama kali kita berkenalan dahulu. Entah apa yang membuatku
sebegitu gugupnya untuk sekedar menatap sorot matamu yang menghujam.
Diberanda
sudah siap secangkir teh hangat dan kue bola, hidangan kesukaanmu. Aku buat
khusus untukmu. karena kau bilang hari ini pertama kali kau mencicipi kerja kerasmu.
kau naik pangkat dikantor tempatmu bekerja.
Ada yang berbeda. Senja kali
ini beraroma hujan. Hujan yang deras sekali, percikan airnya sesekali mengenai
beranda rumah kita. Membasahi jilbabku, lembut seperti embun namun membuatku
sedikit menggigil. Aku tak memperdulikan semua itu, segalanya jadi sesuatu yang
biasa saja saat aku mengingat wajahmu dan ku usap peluh didahimu yang mengucur
karena seharian bekerja.
Diluar
sana anak-anak
kecil berlarian bersama ayah dan bundanya. Mencari tempat berteduh agar tubuh
mereka tak basah kuyup. Tak ada rasa cemas diwajah mereka. Yang ada hanya
senyum ceria. Rasanya indah sekali hidup mereka. Dan Aku jadi ingat ucapanmu
tempo hari, saat kau mengatakan merindukan seorang putra yang hadir
ditengah-tengah usia pernikahan kita yang kesepuluh tahun ini.
“sayang,
kapan ya kita bisa seperti mas andi, anaknya sudah 2 loh”.
“nanti
sayang, kita mesti bersabar, Allah pasti pengen kasih yang terbaik buat kita.”
kataku menghiburmu. Dengan raut wajah menyimpan segala rahasia tentang vonis
mandul yang membelengguku. Dan kau hanya tersenyum, senyum yang membuatku lega.
Hujan
hampir redah, hanya tinggal sisa-sisa gerimis yang menghias senja diberanda.
Dedaunan dihalaman rumah runtuh dari pohonnya. Angin senja membekukan teh yang
mulai berubah suhunya. Kue bola sudah meleleh gulanya, dihisap lapisan-lapisan
embun senja.
Diluar
pagar rumah kita sebuah mobil mewah bersandar didepannya. Seorang perempuan
berambut panjang keluar bersamaan denganmu, membuka kedua pintu mobil bersamaan
pula. Ia memegang tanganmu erat. Dan mencium pipi kanan dan kirimu. Rasa sakit
dihati karena menahan cemburu dan kesal merona dipipiku. Aku tak lagi
menghiraukan penantian panjangku diberanda. Membuka pintu rumah dan langsung
menuju kesofa, dan air mataku jatuh juga. Namun ku segera mengusapnya.
“
pa sudah pulang?” kataku pura-pura tidak tahu apa yang kusaksikan barusan.
“iya”
jawabmu dingin. Tak seperti biasanya, kau lebih dingin,sedingin hujan senja
ini.
Dan
kau berlalu meninggalkanku terpaku sendiri. aku yang ingin sekali memelukmu
untuk sekedar bertanya bagaimana dengan pekerjaanmu hari ini. Bahagiakah engkau
hari ini. Atau sekedar mengusap peluh didahimu seperti biasa, saat aku
menantimu diberanda kala senja.
Sebulan
lamanya kau mendiamkanku. Pulang larut malam dengan mulut bau minuman. Jika aku
bertanya sedikit saja kau lebih memilih pertengkaran .Kemarahan yang tiada
ujungnya. Sampai-sampai kau berani menampar pipiku dan berlalu meninggalkanku tanpa
jawab yang jelas.
Aku
tak tahan lagi dengan sikapmu akhir-akhir ini. Mencoba mencari sebab
perubahanmu. Kali ini sebuah Senja tak kulalui lagi diberanda. Aku mencarimu
ditempat kerja, tapi tak kudapati kau disana. Seorang satpam kantormu bilang
kau sudah pulang bersama seorang wanita yang ia akui adalah anak pemilik
perusahaan yang kau pimpin. Dan Ia memberiku alamat rumahnya.
***
“ibu
siapa ya?”
“saya
rekan bisnis pak suyono, kemarin ia menelepon dan mengundang saya keacaranya.
Ngomong-ngomong acara apa ya pak didalam?maklum pak suyono suka buat kejutan
kalau mengundang.”
“oh,
pak suyono sedang mengadakan acara syukuran, putrinya sudah hamil bu.”
“wah
emang putrinya itu sudah menikah ya, siapa suaminya pak?”
“wah
ibu ini bagaimana masa rekan bisnisnya sendiri nggak tahu, he-he-he. Namanya
Dimas Subardjo, pimpinan baru perusahaan bapak suyono.”
Itu
namamu mas. Dan aku hanya mampu menangis
di seberang pagar rumah yang beraroma senja, melihat engkau bergandeng mesra
bersama wanita yang sedang hamil muda diberanda rumah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar