Selasa, 27 September 2011

Senja di Beranda


Senja di Beranda

Imam Apriansyah

Senja diberanda. Sebuah rutinitasku menantimu pulang kerumah. Disini aku sering merasa bahagia. Kebahagiaan yang tak mampu terucapkan oleh kata-kata. Kala melihatmu membuka pintu pagar rumah kita. seketika jantungku berdegup kencang,serasa pertama kali kita berkenalan dahulu. Entah apa yang membuatku sebegitu gugupnya untuk sekedar menatap sorot matamu yang menghujam.

Diberanda sudah siap secangkir teh hangat dan kue bola, hidangan kesukaanmu. Aku buat khusus untukmu. karena kau bilang hari ini pertama kali kau mencicipi kerja kerasmu. kau naik pangkat dikantor tempatmu bekerja.

Ada yang berbeda. Senja kali ini beraroma hujan. Hujan yang deras sekali, percikan airnya sesekali mengenai beranda rumah kita. Membasahi jilbabku, lembut seperti embun namun membuatku sedikit menggigil. Aku tak memperdulikan semua itu, segalanya jadi sesuatu yang biasa saja saat aku mengingat wajahmu dan ku usap peluh didahimu yang mengucur karena seharian bekerja.

Diluar sana anak-anak kecil berlarian bersama ayah dan bundanya. Mencari tempat berteduh agar tubuh mereka tak basah kuyup. Tak ada rasa cemas diwajah mereka. Yang ada hanya senyum ceria. Rasanya indah sekali hidup mereka. Dan Aku jadi ingat ucapanmu tempo hari, saat kau mengatakan merindukan seorang putra yang hadir ditengah-tengah usia pernikahan kita yang kesepuluh tahun ini.
“sayang, kapan ya kita bisa seperti mas andi, anaknya sudah 2 loh”.

“nanti sayang, kita mesti bersabar, Allah pasti pengen kasih yang terbaik buat kita.” kataku menghiburmu. Dengan raut wajah menyimpan segala rahasia tentang vonis mandul yang membelengguku. Dan kau hanya tersenyum, senyum yang membuatku lega.

Hujan hampir redah, hanya tinggal sisa-sisa gerimis yang menghias senja diberanda. Dedaunan dihalaman rumah runtuh dari pohonnya. Angin senja membekukan teh yang mulai berubah suhunya. Kue bola sudah meleleh gulanya, dihisap lapisan-lapisan embun senja.

Diluar pagar rumah kita sebuah mobil mewah bersandar didepannya. Seorang perempuan berambut panjang keluar bersamaan denganmu, membuka kedua pintu mobil bersamaan pula. Ia memegang tanganmu erat. Dan mencium pipi kanan dan kirimu. Rasa sakit dihati karena menahan cemburu dan kesal merona dipipiku. Aku tak lagi menghiraukan penantian panjangku diberanda. Membuka pintu rumah dan langsung menuju kesofa, dan air mataku jatuh juga. Namun ku segera mengusapnya.

“ pa sudah pulang?” kataku pura-pura tidak tahu apa yang kusaksikan barusan.
“iya” jawabmu dingin. Tak seperti biasanya, kau lebih dingin,sedingin hujan senja ini.
Dan kau berlalu meninggalkanku terpaku sendiri. aku yang ingin sekali memelukmu untuk sekedar bertanya bagaimana dengan pekerjaanmu hari ini. Bahagiakah engkau hari ini. Atau sekedar mengusap peluh didahimu seperti biasa, saat aku menantimu diberanda kala senja.
Sebulan lamanya kau mendiamkanku. Pulang larut malam dengan mulut bau minuman. Jika aku bertanya sedikit saja kau lebih memilih pertengkaran .Kemarahan yang tiada ujungnya. Sampai-sampai kau berani menampar pipiku dan berlalu meninggalkanku tanpa jawab yang jelas.

Aku tak tahan lagi dengan sikapmu akhir-akhir ini. Mencoba mencari sebab perubahanmu. Kali ini sebuah Senja tak kulalui lagi diberanda. Aku mencarimu ditempat kerja, tapi tak kudapati kau disana. Seorang satpam kantormu bilang kau sudah pulang bersama seorang wanita yang ia akui adalah anak pemilik perusahaan yang kau pimpin. Dan Ia memberiku alamat rumahnya.

***


“ibu siapa ya?”

“saya rekan bisnis pak suyono, kemarin ia menelepon dan mengundang saya keacaranya. Ngomong-ngomong acara apa ya pak didalam?maklum pak suyono suka buat kejutan kalau mengundang.”

“oh, pak suyono sedang mengadakan acara syukuran, putrinya sudah hamil bu.”

“wah emang putrinya itu sudah menikah ya, siapa suaminya pak?”

“wah ibu ini bagaimana masa rekan bisnisnya sendiri nggak tahu, he-he-he. Namanya Dimas Subardjo, pimpinan baru perusahaan bapak suyono.”

Itu namamu  mas. Dan aku hanya mampu menangis di seberang pagar rumah yang beraroma senja, melihat engkau bergandeng mesra bersama wanita yang sedang hamil muda diberanda rumah.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar