Kain Kusut Yang Kurindukan Nyatanya
Oleh Imam Apriansyah
Waktu menyeretku pada ujung
benang, memintal kekusutan yang merambah kain kafan
Detik-detiknya menyimpan perangkap sekaligus taman bermain
dimasa belia.
Dan Langkah-langkah kecilku dihantui masa
menjelma sebagai
sejumput rindu dalam pusaran lara.
Aku terdiam
menjamah hati yang kian dahaga,terpasung dalam
deretan bimbang rasa.
Rasa yang tak biasa,
menghamparkanku lagi pada kenangan pahit meniti titian tanya.
.
Kain kusut itu kini telah berubah parang izrail, sayup-sayup
suaranya merenda kerinduan
“sudah satu detik tak kujamah
nyawa” katanya.
Sementara taburan kamboja mengering,
kesal menanti janjiku yang tak kunjung ditepati. Hari ini ia merintih,
merebahkan diri pada dada tanah basah
Nisan-nisan yang kokoh bertancapan,
memasung namaku yang telah dipesan hari ini.
Duh maut…
Mengapa hadirmu menjebakku pada
penjara gundah, mengapa harus secepat ini kau datang menyanyikan dongeng surga.
Taman-taman mimpi sederhanaku bersama ayah, haruskah segalanya
hanya sebuah lagu omong kosong belaka?
Ku meminta pada maut,
Beri aku waktu sekali lagi,untuk memintal benang kusut itu
sejenak menjadi sebuah kain sederhana
Sehari saja…
Agar kudapat menyibak tirai asa yang telah lama kurindukan
nyatanya.
diruang berjelaga, Sebuah Tanya diserpihan nuansa
Senyata Ayah yang kucinta
dimanakah berada…
Pagaralam 10
agustus 2011 11:14 wib.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar