Selasa, 27 September 2011

Kain Kusut Yang Kurindukan Nyatanya


Kain Kusut Yang Kurindukan Nyatanya

Oleh Imam Apriansyah

Waktu menyeretku pada ujung  benang, memintal kekusutan yang merambah kain kafan
Detik-detiknya menyimpan perangkap sekaligus taman bermain dimasa belia.

Dan Langkah-langkah kecilku dihantui masa
 menjelma sebagai sejumput rindu dalam pusaran lara.
Aku terdiam
 menjamah hati yang kian dahaga,terpasung dalam deretan bimbang rasa.
Rasa yang tak biasa, menghamparkanku lagi pada kenangan pahit meniti titian tanya.
.
Kain kusut itu kini  telah berubah parang izrail, sayup-sayup suaranya merenda kerinduan
“sudah satu detik tak kujamah nyawa” katanya.

Sementara taburan kamboja mengering, kesal menanti janjiku yang tak kunjung ditepati. Hari ini ia merintih, merebahkan diri pada dada tanah basah
Nisan-nisan yang kokoh bertancapan, memasung namaku yang telah dipesan hari ini.

Duh maut…
Mengapa hadirmu menjebakku pada penjara gundah, mengapa harus secepat ini kau datang menyanyikan dongeng surga.
Taman-taman mimpi sederhanaku bersama ayah, haruskah segalanya hanya sebuah lagu omong kosong belaka?

 Ku meminta pada maut,
Beri aku waktu sekali lagi,untuk memintal benang kusut itu sejenak menjadi sebuah kain sederhana
Sehari saja…
Agar kudapat menyibak tirai asa yang telah lama kurindukan nyatanya.
diruang berjelaga, Sebuah Tanya diserpihan nuansa
Senyata Ayah yang kucinta
dimanakah berada…

Pagaralam 10 agustus 2011 11:14 wib.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar